JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia relatif stabil dibandingkan negara-negara Asia Tenggara. Pernyataan ini muncul di tengah dinamika harga energi global yang masih berfluktuasi akibat ketegangan geopolitik dan perubahan permintaan pasar.
Dalam beberapa kesempatan, Bahlil menegaskan pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat melalui kebijakan subsidi dan pengendalian harga. “Stabilitas harga BBM menjadi bagian dari strategi menjaga inflasi dan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Perbandingan Harga di ASEAN
Secara umum, harga BBM di kawasan ASEAN memang bervariasi, dipengaruhi oleh kebijakan subsidi, nilai tukar, serta ketergantungan impor energi masing-masing negara. Indonesia termasuk negara yang masih memberikan subsidi untuk jenis BBM tertentu seperti Pertalite dan Solar.
Negara seperti Singapura menetapkan harga BBM mengikuti mekanisme pasar penuh tanpa subsidi, sehingga harganya cenderung lebih tinggi. Sementara Malaysia juga memberikan subsidi besar, membuat harga BBM di negara tersebut relatif lebih murah dibanding Indonesia.
Kebijakan Pemerintah
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM dan PT Pertamina (Persero) menerapkan skema penyesuaian terbatas. Harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax mengikuti harga minyak dunia, sementara BBM subsidi dijaga agar tidak mengalami lonjakan signifikan.
Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan anggaran subsidi energi dalam APBN untuk menahan kenaikan harga. Kebijakan ini dinilai berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi domestik, meski di sisi lain membebani fiskal negara.
Tantangan ke Depan
Pengamat energi menilai klaim stabilitas harga BBM Indonesia perlu dilihat secara proporsional. Stabilitas tersebut sangat bergantung pada kemampuan fiskal pemerintah serta tren harga minyak mentah dunia.
Jika harga minyak global meningkat tajam, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara menaikkan harga BBM atau menambah beban subsidi. Di sisi lain, transisi energi menuju sumber yang lebih bersih juga menjadi tantangan jangka panjang.
Dengan kondisi tersebut, pernyataan Bahlil mencerminkan upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara stabilitas harga, keberlanjutan fiskal, dan kebutuhan energi nasional.

