Di rombongan dagang yang dipimpin Abu Bakar Ash-Shiddiq (sahabat yang seriusnya seperti dosen penguji skripsi) ada satu manusia yang secara mental beda server: Nu’aiman bin Amr.
Kalau rombongan lain sibuk mikir untung-rugi, beliau sibuk mikir:
“Ini kapan makannya?”
Masalahnya, logistik dipegang oleh satu sahabat lain: Suwaibith bin Harmalah.
Orangnya taat prosedur. Tidak bisa digoyang rayuan. Bahkan diskon Shopee 12.12 pun tidak mempan.
Siang hari. Panas. Gurun. Angin kering.
Perut Nu’aiman bunyinya bukan lagi “krucuk-krucuk”. Sudah seperti pengumuman band metal.
“Bro, roti satu aja,” kata Nu’aiman dengan tatapan sendu.
Suwaibith menjawab dengan kalimat paling menyakitkan dalam sejarah umat manusia:
“Tidak. Tunggu Abu Bakar.”
Bayangkan. Kamu lapar. Sudah tahap halu lihat bayangan roti di pasir.
Tapi harus menunggu pimpinan rapat dulu.
Di sinilah kecerdasan yang tidak diajarkan di bangku pesantren muncul.
Nu’aiman berdiri. Memandang Suwaibith.
Lalu berkata dengan ketenangan yang mengkhawatirkan:
“Kalau begitu, saya jual kamu saja.”
Kalimat yang diucapkan orang normal dengan bercanda.
Masalahnya, Nu’aiman bukan orang normal.
Beliau benar-benar membawa Suwaibith ke pasar dan menawarkan:
“Ini budak murah. Kuat. Cuma minus satu: dia suka bilang dia bukan budak.”
Suwaibith teriak:
“Aku orang merdeka!”
Pembeli menjawab dengan logika pasar:
“Semua budak juga bilang begitu, Mas.”
Transaksi terjadi.
Suwaibith resmi “terjual”.
Nu’aiman?
Langsung beli makanan.
Prioritas hidupnya jelas.
Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq kembali, beliau menemukan satu fakta mengejutkan:
Jumlah sahabat berkurang satu.
“Suwaibith mana?”
Dengan santai seperti orang habis setor skripsi, Nu’aiman menjawab:
“Sudah saya jual.”
Kalau ini sinetron, di sini harusnya ada backsound petir.
Abu Bakar tentu tidak ikut-ikutan jadi reseller manusia. Beliau menebus Suwaibith dan mengembalikannya.
Kisah ini sampai kepada Rasululloh
Dan yang terjadi bukan teguran panjang, bukan surat peringatan.
Beliau tertawa.
Tertawa.
Sampai para sahabat ikut menceritakan ulang kisah itu bertahun-tahun kemudian sambil tetap ngakak.

