Pada suatu hari di kota Baghdad, orang-orang berkumpul di sebuah majelis ilmu. Majelis itu biasanya penuh dengan orang-orang saleh yang wajahnya serius seperti mahasiswa lagi nunggu pengumuman skripsi. Semua duduk rapi, mendengarkan nasihat tentang kehidupan, ibadah, dan hal-hal berat yang kalau terlalu lama didengar bisa bikin dahi ikut berkerut.
Di tengah suasana yang khusyuk itu, datanglah seseorang yang kalau muncul biasanya membuat majelis berubah arah. Bukan karena dia membawa kitab tebal, tetapi karena kelakuannya sering bikin orang bingung: ini orang wali atau sekadar orang yang terlalu santai menjalani hidup.
Ya, dia adalah Abu Nawas.
Begitu Abu Nawas masuk, beberapa orang langsung berbisik. Ada yang tersenyum, ada yang pasang muka curiga. Soalnya Abu Nawas ini terkenal cerdas, tapi juga terkenal suka menjawab pertanyaan dengan cara yang tidak biasa.
Di tengah majelis itu, seorang lelaki yang penasaran tiba-tiba mengangkat tangan dan bertanya dengan nada sangat serius.
“Wahai Abu Nawas, sebenarnya bagaimana maqam kewalianmu?”
Pertanyaan itu langsung membuat suasana berubah. Orang-orang saling pandang. Ini pertanyaan berat. Biasanya yang ditanya soal maqam kewalian itu para ulama besar yang kalau bicara nadanya pelan dan kalimatnya penuh istilah tasawuf.
Semua mata langsung tertuju ke Abu Nawas.
Abu Nawas sendiri tampak santai. Ia menggaruk kepalanya sebentar, seperti orang yang sedang berpikir apakah harus menjawab dengan serius atau justru dengan gaya khasnya.
Lalu ia berkata, “Kalau maqam kewalianku… mirip gelas berisi air.”
Orang-orang langsung diam. Beberapa mulai mengangguk-angguk, seolah sedang memahami sebuah rahasia besar.
Dalam hati mereka berpikir, ini pasti perumpamaan tasawuf yang sangat dalam.
Abu Nawas melanjutkan dengan wajah datar.
“Gelasnya bening. Airnya juga bening.”
Orang-orang semakin serius mendengarkan.
“Kalau dilihat sekilas,” lanjut Abu Nawas, “kadang kelihatan seperti gelas saja. Kadang seperti air saja.”
Beberapa orang mulai mencatat. Mereka yakin ini pelajaran spiritual yang sangat tinggi.
Tapi kemudian Abu Nawas menutup penjelasannya dengan kalimat yang benar-benar tidak diduga.
“Begitu juga aku. Kadang orang melihatku seperti wali. Kadang orang melihatku seperti orang gila.”
Majelis langsung hening.
Beberapa orang menahan napas. Mereka mencoba memastikan apakah ini bagian dari ajaran tasawuf atau sekadar candaan Abu Nawas.
Lalu seseorang tidak tahan dan tertawa.
Tawa itu menular. Dalam beberapa detik seluruh majelis pecah oleh gelak tawa. Ada yang sampai menepuk paha, ada yang menunduk sambil tertawa kecil.
Abu Nawas sendiri hanya tersenyum santai melihat reaksi orang-orang.
Sambil berdiri ia berkata ringan, “Kalau kalian masih bingung aku ini wali atau orang gila, berarti penjelasanku tadi berhasil.”
Orang-orang kembali tertawa.
Dan sejak hari itu, orang-orang Baghdad semakin yakin satu hal tentang Abu Nawas: dia memang sulit ditebak. Kadang perkataannya terdengar seperti candaan, tapi setelah dipikir-pikir lagi justru mengandung hikmah.
Mungkin memang begitu cara Abu Nawas mengajarkan sesuatu: membuat orang tertawa dulu, baru kemudian berpikir.

