Kiai dan Tiga Santri Baru 

Suatu sore yang teduh di serambi pesantren, seorang kiai duduk bersila dengan sorban rapi dan wajah penuh wibawa. Di hadapannya berdiri tiga santri baru yang masih terlihat kikuk. Bau kayu tua dan kitab kuning memenuhi ruangan. Hari itu adalah hari pertama mereka “diuji”.

Kiai tersenyum tipis.
“Siapa namamu, Nak?” tanyanya pada santri pertama.

“Nama saya Ashri, Kiai,” jawabnya pelan namun mantap.

“Baik… coba bacakan surat Al-‘Ashr.”

Tanpa ragu, Ashri langsung membaca dengan lancar. Suratnya pendek, hafalannya mantap. Kiai mengangguk puas. Santri pertama lolos dengan mulus.

Giliran santri kedua.
“Namamu?”

“Falaqi, Kiai.”

Kiai kembali tersenyum. “Kalau begitu, bacakan surat Al-Falaq.”

Santri kedua pun membaca dengan suara lantang dan fasih. Lagi-lagi surat pendek yang mudah dihafal. Kiai terlihat semakin senang. Dua santri sukses.

Kini tinggal satu. Santri ketiga berdiri dengan wajah mulai tegang.

“Namamu siapa?” tanya Kiai.

“Ali Imron… Kiai,” jawabnya pelan.

Suasana mendadak terasa berbeda. Santri itu tahu betul bahwa Surat Ali Imran sangat panjang. Keringat mulai menetes di pelipisnya. Ia hafal beberapa surat pendek, tapi jelas bukan Ali Imran yang berjuz-juz itu.

Kiai memandang penuh harap. “Kalau begitu, bacakan surat Ali Imran.”

Santri itu terdiam. Otaknya berputar cepat. Kalau jujur tak hafal, malu. Kalau nekat membaca, bisa kacau. Tiba-tiba ia tersenyum kecil, seolah mendapat ilham.

“Eee… Kiai,” katanya hati-hati, “nama lengkap saya memang Ali Imron… tapi sejak kecil saya dipanggilnya ‘Qulhu’, Kiai.”

Kiai mengernyit. “Qulhu?”

“Iya, Kiai… karena saya paling hafal surat Qul Huwallahu Ahad.”

Sejenak hening… lalu kiai tertawa lepas. Tawa khas orang alim yang paham bahwa kecerdikan kadang lahir dari kepanikan. Para santri lain ikut tersenyum lega.

“Baiklah, kalau begitu bacakan ‘Qulhu’ saja.”

Dan dengan penuh percaya diri, santri itu membaca Surat Al-Ikhlas dengan lancar. Suasana pesantren sore itu dipenuhi gelak tawa ringan.
😊

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca