Riuh pernyataan Saiful Mujani beberapa waktu terakhir mengingatkan saya pada satu hal sederhana, kata-kata ketika terlepas dari kendali bisa menjelma menjadi persoalan yang jauh lebih besar daripada maksud awalnya.
Dalam ruang publik yang serba cepat dan bising, ucapan tidak lagi sekadar bunyi, ia menjadi tafsir bahkan bisa berubah menjadi tuduhan.
Saya melihat polemik ini bukan semata soal benar atau salah. Bukan pula sekadar soal apakah sebuah pernyataan layak disebut kritik atau sudah melampaui batas, Lebih dari itu. Ada pelajaran penting yang layak kita renungkan bersama, bagaimana posisi seorang intelektual ketika berbicara di tengah situasi sosial politik yang sensitif.
Dalam demokrasi, kita sepakat bahwa kritik adalah bagian dari mekanisme yang sehat. Ia adalah penyeimbang kekuasaan, termasuk terhadap pemerintahan Prabowo Subianto.
Tanpa kritik, kekuasaan berisiko berjalan tanpa arah. Namun, dalam praktiknya, kritik bukan hanya soal keberanian berbicara. Ia juga soal kebijaksanaan dalam memilih kata.
Sebagai seseorang yang juga berkecimpung dalam ruang sosial dan kelembagaan, saya sering melihat bagaimana satu kalimat sederhana bisa memicu reaksi berantai. Apalagi jika kalimat itu datang dari figur yang memiliki otoritas intelektual.
Gelar, reputasi, dan rekam jejak bukan hanya menjadi identitas, tetapi juga memperbesar daya pantul dari setiap ucapan.
Di sinilah letak tanggung jawab yang sering kali tidak disadari sepenuhnya. Seorang akademisi tidak hanya membawa dirinya sendiri ketika berbicara. Ia membawa nama keilmuan, membawa kepercayaan publik, bahkan dalam banyak hal, membawa ekspektasi moral. Maka, ketika pernyataan yang keluar kemudian memicu kegaduhan, yang dipertaruhkan bukan hanya isi pernyataannya, tetapi juga wibawa intelektual itu sendiri.
Saya membayangkan, dalam situasi yang serba tidak menentu seperti hari ini, publik kita sedang berada dalam kondisi yang mudah tersulut. Informasi bergerak cepat, potongan video bisa viral dalam hitungan menit, dan konteks sering kali menjadi korban pertama.
Dalam situasi seperti ini, kehati-hatian bukan lagi sekadar sikap bijak, melainkan sebuah keharusan.
Kita boleh saja berargumen bahwa maksud sebuah pernyataan tidak seperti yang dipahami publik. Bahwa ada konteks yang hilang. Bahwa ada penafsiran yang keliru.
Namun realitasnya, ruang publik tidak selalu bekerja dengan cara yang ideal. Ia bekerja dengan persepsi, dan persepsi sering kali dibentuk oleh potongan, bukan keseluruhan.
Di titik inilah saya merasa bahwa persoalan ini menjadi relevan untuk kita semua, bukan hanya untuk sosok yang sedang disorot.
Ini tentang bagaimana kita, terutama yang memiliki latar belakang pendidikan dan posisi sosial tertentu, menempatkan diri dalam ruang publik.
Ada satu prinsip lama yang saya rasa semakin penting untuk dihidupkan kembali, ilmu harus berjalan berdampingan dengan adab. Ilmu memberi kita kemampuan untuk berpikir, menganalisis, dan menyampaikan gagasan. Namun adab memberi kita batas, tentang kapan harus berbicara, bagaimana berbicara, dan sejauh mana sebuah gagasan perlu disampaikan.
Tanpa adab, ilmu bisa kehilangan arah. Ia bisa menjadi tajam, tetapi tidak lagi menyejukkan. Ia bisa benar secara logika, tetapi menimbulkan kegelisahan secara sosial. Dalam konteks ini, saya melihat bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Diperlukan kebijaksanaan untuk memastikan bahwa apa yang kita sampaikan benar-benar membawa manfaat, bukan justru memantik kegaduhan.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa seorang intelektual harus berhenti berbicara atau mengurangi kritik. Justru sebaliknya, suara intelektual tetap dibutuhkan. Namun suara itu akan jauh lebih bermakna ketika disampaikan dengan kesadaran penuh akan dampaknya.
Pengalaman di lapangan mengajarkan saya bahwa masyarakat tidak selalu memisahkan antara isi dan cara penyampaian. Keduanya menyatu. Sebuah gagasan yang baik bisa ditolak hanya karena disampaikan dengan cara yang keliru. Sebaliknya, gagasan yang biasa saja bisa diterima karena dikemas dengan bijak.
Apa yang terjadi hari ini, bagi saya, seperti “tergelincir di langkah sendiri”. Bukan karena arah yang ditempuh salah, tetapi karena kurangnya kehati-hatian dalam melangkah. Dan dalam konteks ini, kata-kata adalah langkah itu sendiri.
Saya juga melihat bahwa fenomena ini mencerminkan betapa tipisnya batas antara kritik dan kontroversi di era sekarang. Satu frasa bisa ditarik ke berbagai arah, tergantung siapa yang mendengar dan dalam konteks apa ia didengar.
Di sinilah pentingnya sensitivitas, kemampuan membaca situasi, memahami psikologi publik, dan menakar dampak sebelum berbicara.
Barangkali, inilah saatnya kita kembali menata cara kita berkomunikasi di ruang publik. Bukan untuk membatasi kebebasan, tetapi untuk menjaga kualitasnya.
Kebebasan tanpa kendali justru bisa merusak tujuan awal dari kebebasan itu sendiri.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa publik tidak hanya menilai apa yang kita pikirkan, tetapi juga bagaimana kita menyampaikannya. Dan bagi seorang intelektual, cara menyampaikan sering kali sama pentingnya dengan isi yang disampaikan.
Dari polemik ini, kita bisa mengambil satu pelajaran sederhana namun mendalam, bahwa dalam dunia yang penuh sorotan, kata-kata bukan lagi hal sepele. Ia bisa menjadi jembatan, tetapi juga bisa menjadi jurang.
Karena itu, menjadi intelektual hari ini bukan hanya soal berani berpikir kritis. Ia juga tentang kemampuan menjaga diri, menjaga kata, menjaga sikap, dan menjaga adab. Sebab pada akhirnya, ilmu yang tidak dibingkai dengan adab berisiko kehilangan maknanya.
Dan mungkin, di tengah semua kegaduhan ini, kita diingatkan kembali bahwa yang paling sulit bukanlah berbicara, melainkan menempatkan kata-kata pada tempat yang semestinya.
Oleh: Ricky Giantoro
Pemerhati isu Sosial dan Kebangsaan

