Teheran — Pemerintah Iran menolak tawaran gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat di tengah konflik yang terus memanas dengan Israel. Teheran menilai proposal tersebut tidak realistis dan sarat kepentingan sepihak.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan usulan yang disampaikan melalui mediator itu justru berpotensi dimanfaatkan lawan untuk menyusun kembali kekuatan militer. Ia menegaskan Iran tidak ingin “terjebak” dalam skema yang dinilai hanya menguntungkan pihak lawan.
Menurut Baghaei, proposal yang terdiri dari sejumlah poin itu antara lain meminta Iran menghentikan aktivitas nuklir, membatasi program rudal, serta membuka kembali Selat Hormuz. Namun, dua tuntutan utama tersebut ditolak mentah-mentah oleh Teheran.
“Iran tidak akan menerima gencatan senjata sepihak yang tidak memiliki jaminan,” ujar Baghaei dalam konferensi pers, seraya menekankan bahwa negaranya menginginkan penghentian agresi secara menyeluruh, bukan sekadar jeda sementara.
Selain menolak proposal, Iran juga menuntut kompensasi atas kerusakan infrastruktur akibat serangan yang terjadi sejak akhir Februari lalu. Pemerintah Iran menilai tuntutan Amerika dalam proposal tersebut “berlebihan, tidak biasa, dan tidak logis.”
Penolakan ini mempertegas sikap keras Teheran di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung melalui sejumlah negara mediator. Sebelumnya, peluang tercapainya kesepakatan gencatan senjata juga disebut sangat tipis, mengingat Iran khawatir skenario serupa konflik di Gaza dan Lebanon akan terulang yakni gencatan senjata yang mudah dilanggar.
Di sisi lain, konflik militer masih terus berlangsung. Serangan balasan Iran terhadap aset Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah menunjukkan eskalasi belum mereda, bahkan cenderung meluas ke berbagai titik strategis.
Situasi ini menandakan bahwa jalur diplomasi masih menemui jalan buntu, sementara risiko konflik berkepanjangan di kawasan tetap tinggi.

