Dari Tadarus ke Aksi Sosial: Cara MTs Muhammadiyah Purwokerto Mendidik Empati Siswa di Bulan Ramadan

BANYUMAS — Suasana Ramadan di lingkungan MTs Muhammadiyah Purwokerto tahun ini tidak hanya diwarnai aktivitas ibadah rutin. Madrasah tersebut justru mendorong siswanya keluar dari ruang kelas, bersentuhan langsung dengan masyarakat melalui rangkaian kegiatan sosial yang terstruktur.

Puncaknya terjadi pada Sabtu, 16 Maret 2026, ketika madrasah menggelar pentasyarufan zakat fitrah kepada sejumlah penerima, mulai dari panti asuhan hingga warga di Kelurahan Purwokerto Lor. Sejumlah siswa dan karyawan yang memenuhi kriteria juga masuk dalam daftar penerima.

Kepala madrasah, Neny Martiningsih, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari desain pendidikan Ramadan yang berlangsung sejak 11 Maret 2026. Menurut dia, pembelajaran tidak hanya difokuskan pada penguatan ritual keagamaan, tetapi juga diarahkan pada pembentukan karakter sosial.

“Pesantren Ramadan kami isi dengan pembiasaan ibadah sekaligus penanaman kepedulian sosial,” kata Neny saat ditemui di sela kegiatan.

Rangkaian kegiatan tersebut meliputi salat berjamaah, tadarus Al-Qur’an, hafalan doa harian, hingga praktik ibadah seperti pengurusan jenazah. Di luar itu, siswa juga dilibatkan dalam kegiatan berbagi takjil di kawasan Jalan Overste Isdiman, buka puasa bersama, serta doa bersama untuk siswa kelas IX.

Guru fikih, Drs. Faiz, menyebut pendekatan ini sebagai upaya mengintegrasikan pemahaman agama dengan praktik kehidupan sehari-hari. Ia menekankan pentingnya pembiasaan ibadah yang sejalan dengan tuntunan tarjih Muhammadiyah.

“Harapannya siswa tidak hanya memahami, tetapi juga mampu mengamalkan secara konsisten,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan guru Qur’an-Hadits dan Aqidah-Akhlak, Hasbalah Sa’ad. Ia menilai kegiatan Ramadan menjadi medium efektif untuk membangun kesadaran keislaman yang komprehensif.

Menurut dia, orientasi pendidikan tidak berhenti pada aspek ritual, melainkan juga mencakup pembentukan akhlak dan kepedulian sosial.

Sementara itu, Ketua PR IPM, Fibril Firjatullah, mengatakan keterlibatan siswa dalam kegiatan ini memberi pengalaman langsung dalam berorganisasi. Ia menyebut siswa belajar mengelola kegiatan, berkomunikasi dengan masyarakat, hingga memahami praktik dakwah di lapangan.

“Ini menjadi ruang belajar di luar kelas,” katanya.

Model pembelajaran seperti ini menunjukkan upaya madrasah dalam mengaitkan pendidikan agama dengan realitas sosial. Penyaluran zakat fitrah yang menjadi penutup rangkaian kegiatan tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga mencerminkan orientasi pendidikan berbasis empati.

Di tengah kecenderungan pendidikan yang kerap berfokus pada capaian akademik, pendekatan yang dilakukan MTs Muhammadiyah Purwokerto menghadirkan alternatif: membentuk siswa yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki sensitivitas sosial di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca