BANYUMAS – Menjelang puncak arus mudik Lebaran 1447 H/2026 M, Polresta Banyumas secara tegas mengimbau seluruh sukarelawan termasuk yang dari organisasi masyarakat seperti posko mudik untuk tidak mengatur arus lalu lintas di titik persimpangan. Pengaturan akan sepenuhnya diambil alih oleh personel Satlantas Polresta saat volume kendaraan meningkat, demi menjaga keselamatan, ketertiban, dan kelancaran di jalur selatan Jawa Tengah.
Ajun Komisaris Polisi Dwi Nugroho, Kepala Satuan Tugas Keamanan Keselamatan Ketertiban dan Kelancaran Lalu Lintas Polresta Banyumas sekaligus Wakil Kepala Satlantas, menyampaikan imbauan ini langsung pada Senin (16 Maret 2026) sore. “Kami sudah memberikan imbauan dan sosialisasi kepada masyarakat maupun sukarelawan agar tidak melakukan pengaturan lalu lintas sendiri di titik potong jalan,” katanya.
Alasannya sederhana tapi krusial: sukarelawan yang baik niatnya kadang kurang koordinasi dengan petugas resmi, bisa bikin situasi malah tambah rawan. Bayangin kalau di persimpangan Sokaraja, Pekuncen, atau Wangon titik pantau utama arus dari Tol Pejagan, Pantura, dan arah Bandung tiba-tiba ada dua-duanya ngatur: polisi satu sisi, relawan sisi lain. Bisa-bisa malah jadi kemacetan dadakan atau, lebih parah, kecelakaan kecil yang sebenarnya bisa dihindari.
Data lapangan dari Polresta menunjukkan peningkatan signifikan: di Pekuncen, Minggu (15/3) pukul 11.00 WIB tercatat 833 kendaraan per jam, naik jadi 998 pada Senin. Di Wangon, dari 614 jadi 700 kendaraan per jam. Kondisi saat ini masih aman dan lancar, tapi prediksi puncaknya Rabu (18/3) besok, pas work from anywhere (WFA) berakhir dan cuti bersama dimulai. Saat itulah personel kepolisian akan full ambil alih persimpangan-persimpangan kritis.
Konteksnya relevan banget sama kegiatan posko mudik swadaya yang lagi marak di Banyumas, termasuk **Posko MudikMu** milik Pemuda Muhammadiyah dan KOKAM Surya Kusuma yang sudah dirikan 17-21 titik. Relawan KOKAM memang sigap bantu pengamanan dan pelayanan pemudik mulai bagi takjil, kopi gratis, sampai bantu angkat barang. Tapi di bagian pengaturan lalin, Polresta bilang: “Terima kasih atas niat baiknya, tapi serahkan ke kami ya, biar terkoordinasi.”
Jujur aja, bro, niat sukarelawan ini mulia banget siap begadang, pakai rompi oranye, berdiri di tengah jalan demi pemudik pulang selamat. Tapi kadang niat baik kalau nggak sinkron sama aturan, ya bisa jadi bumerang. Mirip kayak orang nganterin temen mudik tapi malah nyetir zig-zag karena “biar cepet”. Akhirnya? Yang dianter malah deg-degan. Nah, imbauan Polresta ini kayak reminder halus: “Kita tim yang sama, tapi main sesuai posisi masing-masing.” Fastabiqul khairat, tapi jangan sampai fastabiqul kecelakaan, lah.
Intinya, pemudik yang lewat Banyumas: ikuti arahan petugas resmi di lapangan, patuhi rambu, dan kalau capek mampir aja ke Posko MudikMu untuk istirahat, shalat, ngopi gratis, cerita-cerita. Relawan Pemuda Muhammadiyah dan KOKAM tetap siap layani dengan cara mereka: pelayanan hati dan badan. Tapi urusan lalin? Serahkan ke polisi, biar semuanya aman, keluarga senang, dan mudik nggak berujung cerita horor di grup WA keluarga.
Masyarakat diimbau tetap waspada, patuhi aturan, dan koordinasi kalau ada kendala. Mudik aman, Lebaran berkah semoga tahun ini nggak ada lagi insiden nyaris terserempet di posko, ya. Share pengalaman mudikmu di kolom komentar atau tag @carakamu.id, bro!

