Dari Balik Jeruji, 13 Warga Binaan Lapas Purwokerto Lulus D1 Teologi

Kalau kampus identik dengan gedung bertingkat, jas almamater, dan parkiran motor penuh stiker organisasi, Lapas Kelas IIA Purwokerto punya cerita lain. Di tempat yang biasa kita bayangkan penuh jeruji besi dan jam besuk yang ketat, justru lahir 13 lulusan Diploma 1 Teologi. Ya, lulus kuliah. Bukan lulus sidang tilang.

Wisuda itu berlangsung sederhana, tanpa toga mewah atau karangan bunga dari mantan. Tapi maknanya jauh dari sederhana. Tiga belas warga binaan pemasyarakatan (WBP) resmi menyandang gelar akademik setelah menempuh pendidikan teologi selama setahun penuh. Dari Desember 2024 sampai Desember 2025, mereka kuliah di balik tembok tinggi yang biasanya lebih sering kita kaitkan dengan hukuman, bukan harapan.

Program ini merupakan hasil kerja bareng antara Lapas Purwokerto, Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia, dan Yayasan Indonesia Bangkit Bersinar. Kolaborasi yang terdengar serius, tapi dampaknya terasa sangat manusiawi: memberi kesempatan kedua lewat pendidikan.

Di tengah riuh wacana “penjara bikin orang makin keras”, cerita ini seperti tamparan halus. Bahwa lapas tak selalu soal menghukum, tapi juga kalau dikelola dengan niat bisa jadi ruang belajar. Bahkan belajar tentang iman, etika, dan refleksi diri. Sesuatu yang justru sering luput dari dunia luar yang serba cepat menghakimi.

Kuliah D1 Teologi tentu bukan jalan instan. Ada tugas, ujian, dan kurikulum yang harus dituntaskan. Bedanya, mahasiswa di sini tidak bisa begadang di kafe atau mengerjakan tugas sambil ngopi di coworking space. Mereka belajar dengan keterbatasan ruang, waktu, dan kebebasan. Tapi justru di situ letak ironi yang menarik: di tempat yang paling terbatas, proses belajar bisa jadi paling serius.

Kepala Lapas Purwokerto menyebut program ini sebagai bagian dari pembinaan kepribadian dan intelektual. Bahasa resminya begitu. Tapi kalau diterjemahkan ke bahasa warung kopi: ini usaha agar orang yang pernah salah tidak dikunci selamanya dalam kesalahannya. Negara melalui lapas setidaknya membuka pintu agar mereka bisa pulang ke masyarakat dengan bekal yang lebih dari sekadar cap “mantan napi”.

Teologi dipilih bukan tanpa alasan. Pendidikan ini diarahkan untuk memperkuat spiritualitas, moral, dan cara pandang hidup. Bukan cuma hafal ayat, tapi juga belajar menafsirkan hidup, tanggung jawab, dan relasi dengan sesama. Di konteks pemasyarakatan, ini penting. Karena reintegrasi sosial tidak cukup dengan bebas secara fisik; mental dan nilai hidup juga perlu dibangun ulang.

Kita sering ribut soal kualitas pendidikan nasional, tapi jarang menoleh ke sudut-sudut seperti ini. Padahal, kalau mau jujur, upaya mencerdaskan kehidupan bangsa juga berlaku bagi mereka yang sedang menjalani hukuman. Konstitusi tidak pernah bilang “kecuali narapidana”.

Cerita 13 lulusan D1 Teologi ini juga mengingatkan satu hal: pendidikan bukan soal tempat, tapi kesempatan. Dan kesempatan sering kali datang bukan dari ruang yang nyaman, melainkan dari ruang yang memaksa seseorang berdamai dengan dirinya sendiri.

Lapas memang bukan kampus ideal. Tapi dari balik jeruji, para warga binaan ini membuktikan bahwa belajar tetap mungkin. Bahkan di tengah keterbatasan. Bahkan saat masa lalu terus membayangi.

Di luar sana, banyak dari kita yang bebas, punya akses internet, buku, dan waktu tapi malas belajar dan cepat menghakimi. Sementara di Purwokerto, ada 13 orang yang memilih membaca, belajar, dan lulus.

Mungkin ini bukan berita sensasional. Tidak ada skandal. Tidak ada keributan. Tapi justru karena itu, kisah ini layak dibaca pelan-pelan. Sebagai pengingat: harapan bisa tumbuh di tempat yang paling tidak kita sangka.

Dan kadang, jeruji bukan penghalang terbesar. Yang lebih sering mengurung manusia justru stigma dan keengganan memberi kesempatan kedua.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca