Saatnya Amal Usaha Muhammadiyah-Aisyiyah Dinahkodai Kader Muda Yang Beradab, Berilmu da Berdaya Saing

Amal Usaha Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah terus tumbuh. Sekolah, pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit, dan berbagai layanan sosial semakin berkembang. Aset bertambah, sumber daya manusia membesar, dan kepercayaan masyarakat semakin luas. Tetapi di balik pertumbuhan itu ada pertanyaan yang tidak boleh dihindari: siapa yang akan menjadi nahkoda amal usaha Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah pada masa depan?

Jangan sampai kader muda hanya dicari ketika dibutuhkan sebagai panitia, tenaga lapangan, penggerak kegiatan, atau pengelola media. Ketika berbicara tentang posisi strategis, mereka dianggap belum cukup pengalaman. Kalau tidak pernah diberi kesempatan memimpin, kapan mereka akan memiliki pengalaman?

Ini bukan soal mempertentangkan senior dan junior. Senior memiliki pengalaman yang harus dihormati. Tetapi pengalaman tidak boleh berubah menjadi monopoli kepemimpinan. Regenerasi bukan berarti menyingkirkan generasi lama, melainkan memastikan perjuangan memiliki penerus yang siap.
Karena itu, sudah saatnya AUM memberikan ruang lebih besar kepada kader muda yang telah ditempa melalui ortom—IPM, IMM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiyah, Hizbul Wathan, Tapak Suci, hingga KOKAM.

Menjadi alumni ortom saja tentu tidak cukup. Yang dibutuhkan bukan sekadar kader muda, tetapi kader yang berkualitas: beradab, berilmu, militan, menjadi teladan, profesional, berwawasan luas, memiliki jaringan, memiliki daya tawar yang kuat, mampu mendidik, solutif, dan mengayomi. Sebab AUM hari ini bukan lembaga sederhana. Mengelola sekolah, pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit, dan amal usaha lainnya membutuhkan kemampuan manajerial, literasi digital, pengelolaan SDM dan keuangan, komunikasi, jejaring, serta kemampuan membaca perubahan. Tetapi semua itu harus tetap berakar pada nilai Islam dan Kemuhammadiyahan. Militansi tanpa profesionalisme akan tertinggal. Profesionalisme tanpa ruh dakwah akan kehilangan arah.

Persoalan kaderisasi tidak boleh berhenti pada banyaknya pelatihan dan perkaderan. Kader harus dikelola secara serius. AUM perlu memiliki peta kader: siapa yang potensial, apa kompetensinya, apa kekurangannya, dan ke mana arah pengembangannya.

Setelah dipetakan, kader harus diberi amanah nyata. Mulai dari memimpin program, mengelola unit, memimpin tim, mengambil keputusan, hingga memegang tanggung jawab strategis. Kader harus diuji di lapangan, bukan hanya dinilai dari kemampuannya berbicara di forum. Di sinilah senior memiliki peran penting. Senior seharusnya tidak hanya menjadi pemegang jabatan, tetapi menjadi mentor. Pengalaman yang puluhan tahun jangan berhenti pada diri sendiri. Transfer pengetahuan, jaringan, nilai, dan pengalaman harus menjadi bagian dari proses menyiapkan generasi berikutnya.

Kaderisasi juga harus terukur. Jangan hanya bertanya berapa banyak kegiatan perkaderan yang telah dilakukan. Tanyakan: berapa kader yang tumbuh, diberi amanah, mampu memimpin, dan siap menggantikan pemimpin sebelumnya?

Bahkan kebutuhan pemimpin AUM lima atau sepuluh tahun ke depan seharusnya sudah dipetakan sejak sekarang. Sekolah harus tahu siapa calon pemimpinnya. Pesantren harus menyiapkan calon mudirnya. Perguruan tinggi harus memiliki kader kepemimpinan. Rumah sakit dan amal usaha lainnya pun demikian.

Jangan menunggu kursi kosong baru mencari orang. Siapkan orangnya sebelum kursinya kosong. Tentu, kader muda tidak boleh diberi jabatan hanya karena usia. Kompetensi, integritas, rekam jejak, profesionalisme, kemampuan membangun jaringan, dan kesiapan mental tetap menjadi ukuran. Tetapi jangan pula menjadikan “belum berpengalaman” sebagai alasan untuk terus menutup pintu. Sebab pengalaman tidak lahir hanya dari usia. Pengalaman lahir dari kepercayaan dan tanggung jawab.

AUM tidak hanya membutuhkan orang yang bisa menjalankan lembaga. AUM membutuhkan pemimpin yang mampu membawa lembaga berkembang, membangun jejaring, menyelesaikan masalah, mendidik kader berikutnya, dan menjaga ruh perjuangan. Karena itu, ukuran kepemimpinan perlu diubah. Jangan hanya bertanya, “Siapa yang paling senior?” Tanyakan pula: “Siapa yang paling siap memikul amanah?” Siapa yang beradab? Siapa yang berilmu? Siapa yang profesional? Siapa yang memiliki wawasan dan jaringan? Siapa yang memiliki daya tawar? Siapa yang mampu menjadi teladan, mendidik, solutif, dan mengayomi? Dan yang paling penting, siapa yang ingin berkhidmat, bukan sekadar ingin memegang jabatan?

Jika AUM adalah kapal besar Muhammadiyah, maka tugas kita bukan hanya memastikan kapalnya semakin besar dan kokoh. Kita juga harus memastikan tersedia nahkoda yang kompeten, berintegritas, berjejaring, profesional, dan memiliki keberanian membaca perubahan zaman.

Saatnya memberi ruang. Saatnya memberi kepercayaan. Saatnya kader muda memimpin. Bukan untuk menggantikan senior, tetapi untuk melanjutkan perjuangan. Sebab Muhammadiyah yang besar bukan hanya yang mampu membangun banyak amal usaha, tetapi yang mampu menyiapkan manusia yang akan menjaga dan mengembangkannya.

Oleh: Tarqum Aziz, S.H.I., M.Pd.
Kabid Organisasi PDPM Banyumas Periode 2011–2016 / Wakil Mudir MBS Purwokerto Periode 2018–2022

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca