Bintang Ramadhon: Jika Ingin Diperjuangkan, Tulislah Berdasarkan Fakta

PURWOKERTO — Tengah hari di Studio SMK Muhammadiyah 1 Purwokerto, suasana berubah.

Diskusi soal angle berita dan verifikasi data sejenak berhenti. Semua mata tertuju ke satu orang yang baru saja duduk di depan: Bintang Ramadhon, Anggota DPRD Jawa Tengah Fraksi PAN.

Ia tidak membawa naskah pidato. Tidak membawa powerpoint. Yang ia bawa hanya pengalaman 5 tahun mondar-mandir di gedung Berlian Jateng.

Dan dari pengalaman itulah, ia menitipkan satu pesan yang menohok puluhan kader muda PDPM Banyumas: “Jika ingin sesuatu diperjuangkan, jangan cuma demo. Tulislah. Dan tulislah berdasarkan fakta.”

Itu inti materi yang ia sampaikan di Kelas Jurnalistik “Menjadi Bintang dengan Berita dan Pena”, Sabtu, 5 September 2026.

Yang Sampai ke Meja Dewan Bukan Data, Tapi Narasi
Selama ini banyak yang mengira, kerja DPRD itu soal angka, APBD, dan rapat. Bintang membantahnya. “Di DPRD, yang paling cepat sampai ke meja kami itu bukan data. Narasi. Satu opini yang runtut, satu berita yang kuat, bisa jadi bahan rapat. Bisa jadi pertanyaan di paripurna,” katanya di hadapan peserta.

Ia mencontohkan. Sekolah rusak, jalan berlubang, UMKM yang mati. Semua itu laporan resminya ada. Tapi yang membuat anggota dewan gerak, sering kali adalah tulisan. “Karena tulisan punya wajah. Tulisan punya cerita. Data itu dingin. Narasi itu yang menghangatkan dan membuat kami tidak bisa diam,” ujarnya.

Dari Berlian Jateng ke Studio SMK Mutu
Bagi Bintang, undangan PDPM Banyumas ini penting. Karena ia melihat generasi muda hari ini punya 2 senjata: gawai dan semangat.

Sayangnya, senjata itu sering dipakai untuk menggulir linimasa, bukan untuk memproduksi perubahan. “Kalau kalian mau memperjuangkan sesuatu, jangan berhenti di orasi. Lanjutkan di tulisan. Buat beritanya. Kuatkan narasinya. Itu senjata kalian,” tegasnya.

Pesan itu diamini moderator Abid Hanifi Samha. Sepanjang 6 jam kelas, peserta memang ditempa untuk itu: mengubah peristiwa jadi tulisan yang punya nilai berita.

Bertemu Pimred dan Ketua PDPM dalam Satu Ruangan
Kelas ini memang dirancang berbeda. Sebelum Bintang, peserta sudah “digembleng” Yudhis Fajar Kurniawan, Pimred Radar Banyumas.
Pesan Yudhis keras: “Berita itu bukan curhat. Cek minimal 2 sumber. Kalau cuma 1 sumber itu gosip berseragam media.

Setelah Bintang, giliran Subhan Purno Aji, S.I.P., M.A., Ketua PDPM Banyumas yang menutup dengan wasiat: “Pena adalah Dakwah. Kalian garda terdepan dakwah media.”

Tuan rumah H. Agus Suyono, S.Pd., Waka SMK Mutu Purwokerto, menyebut kolaborasi ini sebagai “dakwah bil qolam yang akan mengubah zaman.”

Pulang Bawa Tugas, Bukan Cuma Sertifikat
Pukul 14.00 WIB, kelas selesai. Foto bersama diambil.

Tapi bagi Bintang, PR peserta baru dimulai. Ia ingin melihat tulisan-tulisan dari anak-anak Purwokerto ini suatu hari nanti sampai ke gedung Berlian. “Saya tunggu tulisan kalian. Soal sekolah, soal desa, soal UMKM. Kirim ke media, tag kami di DPRD. Biar kami tahu apa yang harus diperjuangkan,” pesannya sebelum pamit.

Di tengah dunia yang bising, satu anggota dewan baru saja mengingatkan: perubahan tidak mulai dari teriakan. Ia mulai dari satu kalimat yang ditulis berdasarkan fakta.

Dan kalimat itu, kini ada di tangan puluhan kader muda Banyumas.

Oleh: Tarqum Aziz JurnalisMu

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca