81 Tahun Indonesia Merdeka: Ketika Keramahan Mulai Kehilangan Suaranya

Oleh: Ricky Giantoro
Pemerhati isu Sosial dan Kebangsaan

Setiap 17 Agustus, kita kembali mengibarkan Merah Putih. Lagu-lagu perjuangan berkumandang, upacara digelar, dan kata kemerdekaan kembali memenuhi ruang-ruang publik. Tahun ini, Indonesia genap 81 tahun merdeka.

Namun, di tengah perayaan itu, ada pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya kita warisi dari para pendiri bangsa selain sebuah negara yang merdeka?

Sebab kemerdekaan tidak lahir hanya dari keberanian mengangkat senjata. Ia lahir dari keteguhan hati, persatuan, pengorbanan, kecerdasan membaca keadaan, serta keyakinan bahwa bangsa ini memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri.

Dan ada sesuatu yang menarik dari karakter para pendahulu kita.

Mereka dikenal sebagai bangsa yang ramah, santun, dan memiliki kearifan. Tetapi keramahan itu tidak pernah berarti kelemahan. Kesantunan tidak membuat mereka kehilangan keberanian. Mereka dapat menghormati manusia lain, tetapi pada saat yang sama memiliki keteguhan untuk mengatakan: penjajahan harus berakhir. Indonesia harus merdeka.

Di situlah letak kebesaran mereka.

Mereka mampu membedakan antara santun kepada manusia dan tegas terhadap ketidakadilan.

Kita yang Merdeka

Delapan puluh satu tahun kemudian, keadaan tentu telah berubah.

Kita tidak lagi menghadapi penjajah dengan senjata. Kita hidup dalam negara yang berdaulat, memiliki pemerintahan sendiri, bebas berbicara, bebas menyampaikan pendapat, dan memiliki teknologi yang memungkinkan suara seseorang menjangkau ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan detik.

Tetapi justru di tengah kebebasan itu, muncul persoalan lain.

Kita semakin mudah marah.

Semakin mudah mencibir.

Semakin mudah mencela.

Semakin mudah menghakimi.

Perbedaan pendapat yang semestinya menjadi bagian dari kehidupan demokrasi sering berubah menjadi permusuhan. Kritik tidak jarang disampaikan dengan penghinaan. Perdebatan berubah menjadi pertengkaran. Dan media sosial, yang seharusnya menjadi ruang berbagi gagasan, kadang berubah menjadi panggung untuk saling merendahkan.

Seolah-olah keberanian berbicara harus selalu disertai keberanian untuk menyakiti.

Jika kita tidak menyukai, bahkan membenci seseorang, ingatlah: jangan biarkan kebencian membuat kita berlaku tidak adil. Sebab kemerdekaan bukanlah alasan untuk merampas martabat orang lain. Setiap manusia, siapa pun dia dan apa pun perbedaannya dengan kita, tetap memiliki hak yang harus dihormati dan dijaga bersama.

Kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini karakter bangsa yang ingin kita wariskan?

Para pendahulu kita menghadapi penjajahan dengan keteguhan. Kita justru terkadang kehilangan keteguhan dalam memperjuangkan hal-hal yang jauh lebih mendasar: kejujuran, persatuan, keadilan, pendidikan, kepedulian, dan martabat bangsa.

Kita begitu mudah bertengkar mengenai siapa yang paling benar, tetapi sering lupa memperjuangkan apa yang benar.

Kita sibuk memenangkan perdebatan, tetapi kehilangan semangat untuk memenangkan kepentingan bangsa.

Ketika Kebebasan Kehilangan Kebijaksanaan

Kemerdekaan memberikan kita kebebasan. Tetapi kebebasan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan.

Kita memang berhak mengkritik. Kita berhak berbeda pendapat. Kita berhak tidak setuju terhadap kebijakan pemerintah maupun pendapat orang lain.

Tetapi kebebasan tidak pernah berarti bebas merendahkan manusia lain.

Di sinilah kearifan menjadi penting.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak pernah berbeda pendapat. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berbeda tanpa kehilangan persaudaraan.

Kita boleh keras dalam memperjuangkan prinsip, tetapi tidak harus kasar kepada manusia.

Kita boleh teguh mempertahankan kebenaran, tetapi tidak perlu kehilangan adab.

Kita boleh mengkritik kebijakan, tetapi jangan menjadikan penghinaan terhadap sesama sebagai kebanggaan.

Barangkali inilah salah satu bentuk perjuangan yang harus kita lakukan di zaman sekarang.

Jika dahulu para pahlawan berjuang membebaskan tanah air dari penjajahan, maka generasi hari ini memiliki pekerjaan rumah untuk membebaskan masyarakat dari kebencian, intoleransi, kebohongan, ego, dan kebiasaan saling merendahkan.

Musuh kita mungkin tidak lagi datang dengan kapal perang.

Sebagian justru hadir dalam diri kita sendiri.

Merdeka Bukan Berarti Kehilangan Adab

Kita patut bangga menjadi bangsa Indonesia.

Bangsa yang memiliki sejarah panjang perjuangan. Bangsa yang lahir dari keberagaman. Bangsa yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi. Bangsa yang dikenal dengan keramahan dan semangat gotong royong.

Jangan sampai kemajuan teknologi membuat kita kehilangan kemanusiaan.

Jangan sampai kebebasan berbicara membuat kita kehilangan kesantunan.

Jangan sampai demokrasi membuat kita lupa bahwa orang yang berbeda pilihan tetaplah saudara sebangsa.

Dan jangan sampai kemerdekaan yang diperjuangkan dengan pengorbanan begitu besar justru kita isi dengan pertengkaran yang tidak berkesudahan.

Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan bangsa lain.

Kemerdekaan juga tentang kemampuan sebuah bangsa untuk mengendalikan dirinya sendiri.

Mengendalikan amarah.

Mengendalikan kesombongan.

Mengendalikan ego.

Dan memilih untuk tetap beradab meskipun memiliki alasan untuk marah.

Kepada Para Pendahulu

Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, rasanya kita perlu kembali menundukkan kepala kepada mereka yang telah mendahului kita.

Mereka mungkin tidak meninggalkan kekayaan untuk kita.

Tetapi mereka meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah negara yang dapat kita sebut sebagai rumah.

Mereka menyerahkan kemerdekaan kepada generasi setelahnya dengan harapan bahwa generasi itu akan menjaganya.

Maka penghormatan terbaik kepada para pahlawan bukan hanya memasang foto mereka, menyanyikan lagu perjuangan, atau mengikuti upacara setiap 17 Agustus.

Penghormatan terbaik adalah meneruskan nilai perjuangan mereka.

Berani ketika bangsa membutuhkan keberanian.

Teguh ketika prinsip membutuhkan keteguhan.

Santun ketika keadaan memungkinkan kita untuk memilih kesantunan.

Dan tetap bersatu ketika perbedaan mencoba memecah kita.

Sebab para pahlawan dahulu berjuang agar kita dapat berdiri sebagai bangsa yang merdeka.

Jangan sampai kita yang telah menikmati kemerdekaan justru gagal membebaskan diri dari kebencian, caci maki, dan ego yang kita pelihara sendiri.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar.

Indonesia juga tidak kekurangan orang berani.

Yang harus terus kita rawat adalah orang-orang yang berani sekaligus beradab; tegas sekaligus bijaksana; kritis tetapi tetap memiliki rasa persaudaraan.

Itulah barangkali wajah kemerdekaan yang sesungguhnya.

Karena pada akhirnya, pertanyaan terbesar di usia 81 tahun Indonesia bukan sekadar, “Sudahkah kita merdeka?”

Melainkan:

“Sudahkah kita menjadi bangsa yang layak menerima kemerdekaan yang dahulu diperjuangkan dengan begitu mahal oleh para pendahulu kita?”

Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81.

Dirgahayu Indonesiaku.

Semoga Merah Putih tidak hanya berkibar di tiang-tiang negara, tetapi juga tetap hidup dalam karakter setiap anak bangsa.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca