Ketika Sekolah Tak Lagi Terjangkau, PKBM Hadir Menyelamatkan Anak Banyumas

Persoalan anak putus sekolah di Kabupaten Banyumas bukan sekadar isu pendidikan, melainkan problem sosial yang mendesak dan berdampak jangka panjang. Data menunjukkan bahwa jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di Banyumas masih sangat tinggi.

Bupati Banyumas, Sadewo, mengungkapkan bahwa berdasarkan pendataan sementara hingga Maret 2026, jumlah Anak Tidak Sekolah di Banyumas mencapai 15.458 anak. Namun, ia menekankan bahwa angka tersebut masih merupakan data mentah yang perlu divalidasi lebih lanjut.

Dengan ribuan di antaranya benar-benar putus sekolah. Bahkan pada 2026, estimasi ATS sempat menyentuh angka sekitar 15.000 anak sebelum diverifikasi .

PKBM sebagai Jawaban Alternatif yang Realistis

Dalam kondisi seperti ini, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi sangat urgen. PKBM hadir sebagai jalur pendidikan nonformal yang mampu menjangkau mereka yang tidak terserap dalam sistem sekolah formal.

Di Banyumas sendiri, terdapat sekitar 44 PKBM yang tersebar di berbagai kecamatan . Keberadaan ini sebenarnya merupakan potensi besar, tetapi belum sepenuhnya dimaksimalkan.

Keunggulan PKBM terletak pada fleksibilitasnya. Sistem pembelajaran yang bisa dilakukan pagi, siang, hingga malam membuatnya cocok bagi anak-anak yang sudah bekerja atau memiliki keterbatasan ekonomi dan sosial . Ini penting, mengingat salah satu penyebab utama putus sekolah saat ini bukan hanya kemiskinan, tetapi juga pergeseran pola pikir pragmatis, anak memilih bekerja daripada sekolah .

PKBM menjawab realitas: pendidikan yang menyesuaikan kehidupan, bukan sebaliknya.

Masalah anak putus sekolah tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan kemiskinan, pengangguran, hingga potensi kriminalitas. Pemerintah Kabupaten Banyumas bahkan meluncurkan program SIPATAS sebagai bentuk keseriusan menangani lebih dari 15.000 anak yang tidak sekolah .

Dalam konteks ini, PKBM bukan sekadar lembaga pendidikan alternatif, tetapi juga instrumen rekayasa sosial (social engineering):

– Mengembalikan anak ke dunia belajar

– Meningkatkan keterampilan hidup (life skills)

– Mengurangi angka pengangguran usia muda

– Menekan kemiskinan struktural

Kerja sama antara PKBM, pemerintah, dan masyarakat bahkan sudah mulai dilakukan, seperti kolaborasi dengan Pramuka untuk menjangkau anak-anak yang terpinggirkan .

Tantangan yang Harus Diakui

Meski penting, PKBM masih menghadapi berbagai tantangan serius:

1. Mayoritas PKBM di Banyumas masih swasta dan banyak yang belum terakreditasi baik
2. Stigma masyarakat terhadap pendidikan nonformal masih rendah
3. Keterbatasan fasilitas dan tenaga pendidik
4. Belum optimalnya integrasi dengan dunia kerja

Tanpa pembenahan serius, PKBM hanya akan menjadi “pelengkap penderita” dalam sistem pendidikan.

PKBM Bukan Pilihan Kedua, Tapi Solusi Nyata

Urgensi PKBM di Banyumas tidak bisa ditawar lagi. Dengan ribuan anak yang terancam kehilangan masa depan, pendekatan pendidikan konvensional saja tidak cukup. Diperlukan sistem yang adaptif, inklusif, dan membumi, jadi PKBM adalah jawabannya.

Yang perlu didorong ke depan adalah:

1. Penguatan kualitas dan akreditasi PKBM

2. Dukungan anggaran dan kebijakan yang lebih konkret

3. Integrasi dengan pelatihan kerja dan dunia industri

4. Kampanye perubahan mindset masyarakat

Jika tidak, Banyumas berisiko menghadapi “lost generation” generasi yang terputus dari pendidikan dan sulit bersaing di masa depan.

PKBM bukan sekadar alternatif. Ia adalah harapan terakhir bagi ribuan anak Banyumas untuk kembali bermimpi.

*Faiz Fauzi (Wakil Direktur PKBM Surya Muhammadiyah Purwokerto Timur)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca