BANYUMAS — Aktivitas vulkanik Gunung Slamet mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Banyumas untuk memperkuat langkah kesiapsiagaan melalui rapat koordinasi (rakor) bersama sejumlah pemangku kepentingan.
Kepala Pelaksana BPBD Banyumas, Dwi Irawan Sukma, menyebutkan peningkatan aktivitas terpantau dari sejumlah parameter vulkanik. Salah satunya adalah kenaikan suhu kawah yang tercatat meningkat dari sekitar 461 derajat Celsius menjadi 478 derajat Celsius pada pertengahan April 2026. Selain itu, aktivitas kegempaan juga menunjukkan dinamika yang cukup signifikan, meliputi gempa hembusan, gempa frekuensi rendah, hingga tremor menerus.
“Data ini menunjukkan adanya peningkatan tekanan di dalam tubuh gunung api, sehingga perlu diantisipasi dengan langkah-langkah kesiapsiagaan yang matang,” ujarnya.
Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, status Gunung Slamet saat ini masih berada pada Level II atau Waspada. Namun, seiring dengan peningkatan aktivitas tersebut, PVMBG telah merekomendasikan perluasan radius aman dari sebelumnya 2 kilometer menjadi 3 kilometer dari kawah aktif.
Dalam konteks mitigasi, BPBD Banyumas tidak bekerja sendiri. Rakor yang digelar melibatkan berbagai pihak, termasuk Badan Geologi, BPBD dari kabupaten sekitar seperti Purbalingga, Pemalang, Tegal, hingga Brebes. Kolaborasi ini dinilai penting mengingat Gunung Slamet berada di perbatasan beberapa wilayah administratif, sehingga potensi dampaknya bersifat lintas daerah.
Rakor tersebut difokuskan pada penyamaan persepsi terkait langkah mitigasi, penyusunan skenario evakuasi, hingga kesiapan logistik dan jalur distribusi bantuan jika terjadi peningkatan status lebih lanjut. Selain itu, kesiapan relawan, sistem komunikasi darurat, serta pemetaan titik pengungsian juga menjadi agenda utama pembahasan.
Sejumlah wilayah di Kabupaten Banyumas yang berada di sekitar lereng selatan Gunung Slamet menjadi prioritas pemantauan. Di antaranya adalah kawasan Baturraden, Sumbang, Kedungbanteng, dan Cilongok. Wilayah-wilayah ini dinilai memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap dampak aktivitas vulkanik, seperti hujan abu maupun potensi aliran lahar.
Meski demikian, BPBD memastikan bahwa hingga saat ini kondisi di wilayah selatan Banyumas masih relatif aman dan aktivitas masyarakat berjalan normal. Namun, masyarakat diimbau untuk tidak mendekati kawah serta tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan otoritas terkait.
“Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Kami mendorong warga untuk memahami jalur evakuasi dan tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi,” kata Dwi.
Sebagai langkah preventif, BPBD juga telah menyiapkan sejumlah skenario tanggap darurat, termasuk simulasi evakuasi serta koordinasi dengan aparat desa dan relawan kebencanaan. Selain itu, pemantauan intensif terus dilakukan dengan mengacu pada laporan harian PVMBG.
Gunung Slamet sendiri merupakan gunung api aktif tertinggi di Jawa Tengah dengan ketinggian sekitar 3.432 meter di atas permukaan laut. Riwayat erupsi gunung ini menunjukkan pola aktivitas yang fluktuatif, sehingga pemantauan berkelanjutan menjadi hal yang krusial dalam upaya mitigasi bencana.
Dengan meningkatnya aktivitas vulkanik saat ini, BPBD Banyumas menegaskan bahwa kesiapsiagaan lintas sektor harus terus diperkuat guna meminimalkan risiko bagi masyarakat. Pemerintah daerah berharap kondisi Gunung Slamet dapat segera stabil, namun tetap menempatkan aspek kewaspadaan sebagai prioritas utama.

