Ada yang berubah setiap kali Lebaran tiba. Jalanan yang biasanya santai mendadak padat, gang-gang kecil naik pangkat jadi jalur alternatif, dan kota-kota yang tenang tiba-tiba seperti ikut audisi jadi kota metropolitan.
Momentum seperti Idul Fitri seharusnya membawa pulang ketenangan. Orang kembali ke kampung halaman, bertemu keluarga, saling memaafkan. Tapi di sisi lain, ada satu tradisi tidak tertulis yang selalu ikut datang kekacauan di jalan raya.
Dan di tengah semua itu, muncul satu fenomena yang rasanya lebih konsisten daripada ketupat di meja makan kendaraan berplat luar kota yang mendadak seperti lupa bahwa mereka sedang berada di daerah orang lain.
Mari kita jujur saja. Ini bukan soal semua, tapi cukup banyak untuk membuat warga lokal mendadak jadi pengamat lalu lintas dadakan, lengkap dengan keluhan yang sebenarnya sudah dihafal tiap tahun.
Lampu merah, misalnya. Di hari biasa saja masih suka dianggap opsional, apalagi saat Lebaran. Ada yang pelan-pelan maju, ada yang pura-pura tidak lihat, ada juga yang mungkin mengira lampu merah itu sekadar hiasan kota.
Padahal, kalau semua orang berpikir begitu, yang ada bukan cepat sampai tujuan, tapi cepat masuk berita kecelakaan.
Seolah-olah Lebaran adalah lomba siapa paling nekat, bukan siapa paling selamat.
Belum lagi gaya berkendara yang mendadak berubah jadi agresif. Jalan desa yang biasanya cukup untuk dua motor papasan dengan damai, tiba-tiba dipaksa menampung ambisi kendaraan yang ingin selalu duluan. Klakson ditekan seperti lagi ikut lomba bunyi-bunyian.
Padahal yang dihadapi bukan NPC dalam game. Itu manusia beneran. Bisa marah, bisa kaget, dan tentu saja bisa celaka.
Terus terang, kami lelah melihat sikap semaunya sendiri di jalan, seolah-olah semua harus mengalah dan memberi jalan.
Lebaran mestinya tentang kembali ke fitrah, bukan kembali ke mode barbar di jalan raya.
Dan soal parkir ini bagian yang sering dianggap sepele tapi efeknya luar biasa. Depan rumah orang jadi tempat parkir, bahu jalan diambil alih, bahkan kadang ada yang parkir dengan percaya diri seolah-olah punya sertifikat tanah di situ.
Alasannya klasik cuma sebentar. Tapi sebentar versi pengendara sering kali cukup untuk bikin orang lain muter-muter seperti lagi ikut tawaf kecil di kampung sendiri.
Masalahnya sederhana banyak yang datang sebagai tamu, tapi bersikap seperti pemilik jalan.
Padahal, Lebaran justru mengajarkan sebaliknya. Tentang menghormati, tentang menahan diri, tentang peka terhadap sekitar. Tapi entah kenapa, begitu tangan pegang setir, sebagian nilai itu seperti ikut ketinggalan di rumah.
Yang lebih ironis, nanti ketika kembali ke kota asal, keluhan yang sama akan diulang. Jalanan semrawut, pengendara tidak tertib, dan seterusnya. Siklus tahunan yang entah kenapa tidak pernah benar-benar selesai.
Seolah-olah etika itu hanya aktif di wilayah sendiri, dan otomatis nonaktif ketika keluar kota.
Padahal, di jalan raya, semua orang punya status yang sama pengguna jalan yang sama-sama ingin selamat.
Lebaran memang momen pulang. Tapi pulang bukan berarti bebas melakukan apa saja. Justru di situlah ujiannya apakah kita bisa tetap jadi manusia yang tahu diri di tengah suasana yang serba ramai.
Tidak perlu jadi pengendara paling suci. Cukup jadi pengendara yang tidak bikin orang lain mengelus dada.
Berhenti saat lampu merah meski tidak ada polisi. Pelan di jalan sempit meski GPS bilang bisa lebih cepat. Parkir di tempat yang semestinya meski harus jalan sedikit lebih jauh dan sedikit lebih capek.
Karena pada akhirnya, Lebaran bukan cuma soal sampai di rumah, tapi juga soal bagaimana kita tidak jadi cerita buruk di rumah orang lain.
Ini Lebaran. Mari rayakan dengan hati yang lapang, dan kalau bisa, dengan cara berkendara yang tidak bikin orang lain ingin mengeluh di status WhatsApp.
Oleh : Faiz Fauzi (Ketua Bidang Hikmah Dan Kebijakan Publik PDPM Banyumas)

