Dari Depan Menghalangi, ke Grup WhatsApp Menguasai

Saya punya teori sederhana: orang yang tiba-tiba maju ke depan saat acara ramai, lalu mengangkat HP tinggi-tinggi sambil merekam tanpa dosa, itu kemungkinan besar punya masalah pribadi dengan orang-orang di belakangnya.

Entah pernah disalip antrean, entah pernah kalah arisan, atau mungkin pernah dipinjemin uang tapi nggak balik. Maka, balas dendam paling elegan yang bisa dia lakukan adalah: menghalangi pandangan kita semua, tepat di momen paling sakral.

Coba bayangkan. Kita sudah datang pagi-pagi, duduk rapi, berharap bisa mengikuti acara dengan khusyuk. Tiba-tiba dari arah samping, muncul sosok bapak-bapak dengan langkah pasti. Tanpa ragu, tanpa permisi, langsung berdiri di depan. Mengangkat HP. Landscape. Siap syuting.

Gerakannya mantap sekali. Seolah-olah kalau dia tidak merekam, sejarah akan hilang. Seolah-olah dokumentasi resmi negara bergantung pada Xiaomi atau Oppo yang dia pegang.

Yang lebih menarik, biasanya hasil videonya tidak akan pernah kita lihat. Tidak di YouTube, tidak di Instagram, bahkan di status WhatsApp pun kadang cuma muncul 3 detik lalu hilang. Tapi perjuangannya menghalangi orang lain itu nyata. Sangat nyata.

Saya kadang ingin bertanya, dengan tulus: “Pak, njenengan ini sebenarnya mau dokumentasi, atau sedang uji coba jadi tiang listrik?”

Karena posisinya kok ya pas. Tegak. Diam. Menghalangi.

Saya Curiga, Orang yang Sok Jadi Kameramen Itu Punya Dendam Pribadi dengan Jamaah Lain.

Ilustrasi

Fenomena ini makin lengkap kalau kita lihat kehidupan digitalnya. Biasanya, tipe bapak-bapak seperti ini juga aktif di grup WhatsApp. Perannya penting: distributor utama informasi yang sumbernya “katanya”.

Judulnya biasanya begini: “WAJIB BACA!!!” “JANGAN DIABAIKAN!!!” “INI SUDAH TERBUKTI!!!”

Padahal yang terbukti cuma satu: beliau tidak membaca isinya sampai selesai.

Kalau ada yang berani klarifikasi, jawabannya sudah disiapkan sejak zaman penjajahan: “Kita harus hati-hati.” “Sekarang banyak kejadian.” “Dulu kita dibohongi.”

Kalimat-kalimat ini sakral. Tidak bisa dibantah. Karena kalau dibantah, nanti kita dianggap tidak waspada terhadap sesuatu yang bahkan belum tentu ada.

Di titik ini saya mulai paham, ternyata benang merahnya jelas. Baik di dunia nyata maupun dunia WhatsApp, prinsipnya sama: yang penting maju dulu, benar belakangan.

Maju ke depan tanpa mikir orang lain. Share informasi tanpa mikir benar atau tidak.

Sebuah konsistensi yang, kalau dipikir-pikir, patut diapresiasi juga.

Tapi ya itu tadi, hidup ini kan bukan lomba siapa yang paling depan. Kadang, mundur satu langkah justru bikin semua orang bisa melihat lebih jelas. Termasuk melihat diri sendiri, bahwa tidak semua momen butuh direkam, dan tidak semua informasi butuh dibagikan.

Kalau memang ingin berkontribusi, sebenarnya sederhana: cukup duduk yang rapi, tidak menghalangi, dan kalau dapat kabar, dibaca dulu sebelum jempolnya semangat.

Karena percayalah, sejarah tidak akan hilang hanya karena sampeyan tidak merekam.

Tapi kekhusyukan orang lain, bisa hilang hanya karena sampeyan berdiri.

Oleh : Fulan Wamera

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca