PURWOKERTO – Gema Ramadan 1447 Hijriah di lingkungan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tanjung kian terasa hangat dan penuh makna. Bertempat di Masjid Nur Hidayah, yang dikenal sebagai salah satu Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) penggerak program “Masjid Maju Memajukan”, warga persyarikatan memadati pengajian Ramadan, Jumat (27/2/2026).
Pengajian menghadirkan Ustaz Ali Rois Nurohman, S.Ag., Pengurus Majelis Tabligh PDM Banyumas. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan pentingnya menjaga lisan sebagai fondasi membangun peradaban Islam yang berkemajuan dan mencerahkan.
Lisan: Investasi Pahala atau Jalan Celaka
Di hadapan jamaah yang memenuhi masjid di Jalan Pahlawan Gang IX, Purwokerto Selatan, Ustaz Ali menegaskan bahwa lisan adalah “pisau bermata dua”.
“Lisan bisa menjadi investasi pahala jika digunakan untuk dakwah, zikir, dan nasihat kebaikan. Namun sebaliknya, ia juga bisa menyeret manusia ke jurang kebinasaan jika tak dijaga,” ujarnya.
Ia mengutip hadis riwayat Muhammad yang disampaikan kepada Mu’adz bin Jabal dan diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Dalam hadis tersebut, Rasulullah menegaskan bahwa banyak manusia tersungkur ke neraka akibat “hasil panen” dari ucapan lisannya sendiri.

Menurutnya, hadis ini menjadi peringatan serius bahwa dosa akibat ucapan kerap dianggap sepele, padahal dampaknya bisa sangat besar.
Ucapan “Nyelekit” Tinggalkan Luka
Ustaz Ali juga mengingatkan kader Muhammadiyah agar berhati-hati dalam bertutur kata, terlebih di era media sosial yang serba cepat.
“Lisan itu bisa mengiris hati yang tampak tenang. Luka fisik mungkin sembuh, tapi luka karena ucapan sering membekas lama. Jika belum mampu berkata baik, maka diam adalah pilihan terbaik,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa komunikasi yang tidak terkontrol berpotensi memecah ukhuwah dan merusak citra dakwah Islam yang seharusnya membawa rahmat bagi semesta.
Qaulan Sadida, Pilar Peradaban
Menguatkan pesannya, Ustaz Ali mengutip Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 70 tentang perintah berkata benar (qaulan sadida). Ia menjelaskan, perkataan yang “sadida” memiliki tiga dimensi utama.
Pertama, menyenangkan, yakni tidak menyakiti atau merendahkan orang lain.
Kedua, bermanfaat, memberi solusi dan pencerahan, bukan sekadar kritik tanpa arah.
Ketiga, sesuai syariat, berpijak pada nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah.
“Peradaban Islam yang mencerahkan tidak dibangun dengan caci maki, tetapi dengan kalimat yang menyejukkan dan menguatkan,” katanya.
Masjid sebagai Oase Peradaban
Pengajian ditutup dengan ajakan agar warga Muhammadiyah, khususnya di PRM Tanjung, menjadi teladan dalam komunikasi yang santun dan beradab.
Masjid Nur Hidayah Tanjung, yang selama ini dikenal aktif dalam gerakan dakwah dan pemberdayaan, terus bertransformasi bukan hanya sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat pendidikan karakter dan peradaban.
Dari masjid inilah, pesan cinta dan kedamaian diteguhkan. Sebab, wajah Islam yang berkemajuan tak hanya tampak dari amal besar, tetapi juga dari lisan yang terjaga.

