Makan Bergizi Gratis Tetap Jalan Saat Puasa, Tapi Apakah Gizinya Ikut Tahan 12 Jam?

Ramadan selalu datang sebagai ruang latihan pengendalian diri. Namun bagi negara, bulan puasa semestinya bukan jeda tanggung jawab. Terutama ketika yang dipertaruhkan adalah hak dasar anak-anak atas gizi.

Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama Ramadan. Bukan tanpa penyesuaian. Ada empat mekanisme yang disiapkan, disesuaikan dengan kondisi sekolah, pesantren, serta kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Kepala BGN Dadan Hindayana menjelaskan, menu MBG selama Ramadan dirancang sebagai makanan yang mampu bertahan hingga 12 jam. Skema ini memungkinkan makanan dibagikan pada jam sekolah, lalu dikonsumsi saat berbuka puasa. Negara hadir tanpa memaksa tubuh anak-anak menabrak ritme ibadah.

Untuk sekolah di wilayah mayoritas berpuasa, makanan dibawa pulang sebagai bekal berbuka. Di daerah yang mayoritas tidak menjalankan puasa, MBG tetap disalurkan seperti hari biasa. Sementara bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, penyaluran dilakukan tanpa perubahan karena kebutuhan gizi mereka tidak bisa ditunda oleh kalender keagamaan.Di pesantren, mekanisme MBG disesuaikan dengan jadwal berbuka santri. Makanan disiapkan untuk dikonsumsi bersama, menegaskan bahwa pendidikan, ibadah, dan pemenuhan gizi seharusnya berjalan seiring, bukan saling meniadakan.

Namun, di balik skema yang tampak rapi, ada pertanyaan yang patut diajukan: apakah penyesuaian teknis cukup menjamin substansi pemenuhan gizi?Makanan yang tahan 12 jam memang solusi logistik, tetapi negara perlu memastikan bahwa standar nilai gizi, keamanan pangan, dan kualitas distribusi tetap terjaga bukan sekadar aman dikonsumsi, tetapi juga benar-benar mencukupi kebutuhan tumbuh kembang anak. Ramadan tidak boleh menjadi alasan lahirnya standar gizi “versi darurat”.

Lebih jauh, kebijakan MBG selama Ramadan semestinya dibarengi dengan pengawasan yang ketat dan pelibatan komunitas, termasuk sekolah, pesantren, dan organisasi masyarakat. Tanpa itu, program berisiko berhenti sebagai rutinitas administratif, bukan intervensi sosial yang berdampak.

Bagi gerakan Islam berkemajuan, Ramadan menegaskan satu pesan: ibadah tidak boleh menjauhkan negara dari keadilan sosial. Puasa melatih empati, dan empati seharusnya diterjemahkan dalam kebijakan yang berpihak bukan sekadar adaptif, tetapi juga transformatif.

Program MBG di bulan Ramadan adalah langkah. Tapi ia baru bermakna jika dijalankan dengan kesungguhan, bukan sekadar agar laporan tetap berjalan. Karena dalam urusan gizi anak, yang dibutuhkan bukan niat baik, melainkan keberlanjutan dan keberpihakan nyata.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca