Ledakan itu terjadi Kamis pagi, 5 Februari 2026, pukul 10.40 WIB, di Desa Krajan, Pekuncen, Banyumas. Lokasinya bukan pabrik, bukan gudang bahan peledak, melainkan dapur SPPG calon dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sumbernya satu: oven pengering ompreng. Alat itu sedang digunakan dalam uji coba operasional ketika tiba-tiba meledak. Keras. Cukup keras untuk membuat warga sekitar berhamburan keluar rumah dan mengira ada kejadian besar.
Data korban menunjukkan 22 orang mengalami luka-luka. Mayoritas luka ringan akibat pecahan kaca dan benturan benda. Namun setidaknya 10 orang harus mendapat penanganan medis, dengan dua di antaranya dirujuk ke rumah sakit karena luka kaki tertimpa material dan luka bakar ringan.
Tidak ada korban meninggal. Itu kabar baiknya.
Kabar lainnya: dapur ini belum resmi beroperasi dan baru akan difungsikan pada 9 Februari 2026. Artinya, insiden ini terjadi di fase yang seharusnya paling aman—fase percobaan.
Polisi dari Polsek Pekuncen dan Polresta Banyumas turun melakukan olah TKP. Dugaan awal mengarah pada panas berlebih mesin pengering. Sebuah istilah teknis yang, jika diterjemahkan ke bahasa awam, berarti: ada yang luput dalam standar keselamatan.
Program MBG membawa harapan besar soal gizi dan masa depan. Tapi ledakan di Krajan menyisakan pertanyaan mendasar:
kalau di tahap uji coba saja sudah melukai 22 orang, seberapa siap dapur-dapur serupa di tempat lain?

