Berdakwah Bijaksana dalam Keluarga

Oleh: Ali Rois NurRohman, S. Ag

Khutbah pertama
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat Iman dan Islam.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa yaitu dengan menjalankan semua perintah-perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-larangan-Nya.


Allah SWT telah memberikan kita nikmat yang tak terhitung. Di antara nikmat terbesar adalah keluarga: istri, anak, orang tua, dan kerabat dekat. Mereka adalah amanah di pundak kita. Seringkali kita begitu bersemangat mengingatkan orang lain, berdakwah, menyampaikan nasihat-nasihat agama kepada orang lain, tetapi lalai terhadap orang-orang terdekat di rumah kita sendiri.


Allah SWT berfirman, menegaskan kewajiban utama kita terhadap keluarga kita:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Inilah perintah langsung dari Allah.


Dalam ayat lain, Allah mengisahkan nasihat Luqman kepada anaknya:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'” (QS. Luqman: 13)


Rasulullah ﷺ juga menegaskan dalam sabdanya:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ… وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya… Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dakwah kepada keluarga bukan pilihan, tapi kewajiban. Itulah amanah pertama sebelum kita mengajak orang lain.


Kemudian dalam sebuah ayat, Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk memulai dari yang terdekat:
وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara: 214)


Nabi Muhammad SAW pun melaksanakan perintah ini dengan sungguh-sungguh. Beliau mengumpulkan keluarga besarnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda saat turun ayat peringatan ini:
فَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
Maka beliau bersabda:
“يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ، لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا…”
“Wahai kaum Quraisy, selamatkanlah dirimu (dari api neraka), aku tidak dapat membelamu dari (siksa) Allah sedikit pun. Wahai Bani Abdul Muththalib, aku tidak dapat membelamu dari (siksa) Allah sedikit pun…” (HR. Muslim).


Jamaah yang di rahmati Allah SWT
Ini pelajaran penting, bahwa Iman dan amal shaleh itu tidak bisa diwariskan. Sehebat apa pun ayahnya, sepintar apa pun ibunya, keselamatan setiap manusia tergantung pada iman dan amalnya sendiri. Kita tidak bisa mengandalkan “nama besar” keluarga. Yang ditanya di akhirat nanti adalah: bukan ”Engkau anak siapa, keturunan siapa ?” tapi “Apa yang telah engkau perbuat?”
Lalu, bagaimana kita berdakwah dalam keluarga? Ada beberapa hal dapat kita sampaikan bagaimana kita berdakwah kepada keluarga, diantaranya:
Pertama, dakwah dimulai dari KETELADANAN dalam adab sehari-hari.
Rasulullah SAW mengajarkan kita melalui praktik nyata.
• Menutup aurat. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Seorang suami dan ayah wajib mengingatkan istri dan anak-anak perempuannya agar mereka senantiasa mengenakan hijab yang menutup auratnya, tentu dengan lembut, bijaksana dan tidak dengan keras dan kasar. Dan lebih dari itu, seorang suami atau ayah juga menunjukkan keteladanan dalam menjaga harga diri dan aurat keluarga.
• Makan dan minum sambil duduk. Nabi SAW melarang:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا
“Dari Abu Sa’id (Al-Khudri) bahwa Nabi SAW melarang minum sambil berdiri.” (HR. Muslim).
Ajarkanlah kepada anak-anak dengan cara yang baik dan penuh kasih.
• Memulai dengan kanan dalam hal yang baik. Aisyah RA berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat suka memulai dengan kanan ketika memakai sandal, menyisir, bersuci, dan dalam segala urusannya.” (Muttafaqun ‘alaih).
• Menyebarkan salam dan melarang bermusuhan. Rasulullah SAW bersabda:
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ
“Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).


Jika dengan saudara seiman saja dilarang bermusuhan, apalagi dengan keluarga sendiri di rumah? Dan biasakanlah salam ketika memasuki rumah dan bertemu dengan saudara sesama kaum muslimin dan dengan saudara dan kerabat kita.


Kedua, dakwah dengan PENJELASAN yang LEMBUT dan LOGIS.
Saat melarang sesuatu yang keliru dan melanggar perintah Allah yang dilakukan oleh anak jangan hanya berkata “Haram!”. Tapi sampaikan dengan ilmu dan kasih sayang. Sampaikan kepada anak-anak kita dengan bahasa cinta tanpa kekerasan.
Landasannya adalah kaidah agung dalam syariat:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (Hadits Hasan riwayat Ibnu Majah).

Ketiga, dakwah dengan DOA
Hati manusia berada di genggaman Allah, maka berdoalah kepada Allah SWT, mohonlah kepada Allah agar kita dberi anak keturunan yang sholih dan sholihat sebagaimana  Nabi Ibrahim AS mengajarkan kita doa untuk keluarga:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan shalat.” (QS. Ibrahim: 40).
Setelah kita berusaha dengan bijak, sisanya serahkan kepada Allah dengan banyak berdoa.


Jamaah yang dirahmati Allah,
Mari kita evaluasi diri. Sudahkah kita menjadi dai pertama bagi istri dan anak-anak kita? Atau justru kita lebih perhatian pada hal di luar, sementara di rumah kita diam melihat kemungkaran kecil?
Marilah kita jadikan rumah kita sebagai madrasah pertama dan masjid kecil. Tempat di mana nilai-nilai Islam hidup dalam sikap dan kebiasaan. Berdakwahlah dengan hati, dengan teladan, dan dengan kesabaran yang tak berkesudahan.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khutbah kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْدُ: أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى.
Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Mari kita kuatkan komitmen untuk membina keluarga. Ingatlah, keluarga yang shaleh dan shalihah adalah investasi terbesar untuk kebahagiaan dunia dan bekal terbaik untuk akhirat.
Bimbinglah mereka dengan ilmu, bukan dengan kebodohan. Arahkan mereka dengan cinta, bukan dengan kebencian. Jadilah pemimpin dalam keluarga yang dirindukan nasihatnya, diteladani akhlaknya, dan dicintai karena kebijaksanaannya.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَسَرَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا عَامِرَةً بِطَاعَتِكَ، اللَّهُمَّ احْفَظْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفَسَادٍ، وَارْزُقْهُمُ الصَّلَاحَ وَالتَّقْوَى.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
اذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca