Kita hidup di zaman ketika informasi tidak lagi harus dicari. Informasilah yang datang mencari kita.
Setiap hari, layar telepon menyuguhkan berita, potongan video, podcast, talkshow, pernyataan para pakar, infografis, hingga komentar tokoh publik. Semuanya berlomba mendapatkan perhatian.
Di tengah banjir informasi seperti ini, pertarungan tidak lagi hanya tentang siapa yang memiliki fakta. Pertarungannya adalah tentang fakta mana yang paling sering kita lihat, dengar, dan akhirnya kita percaya.
Di sinilah propaganda menemukan wajah barunya.
Propaganda di era digital tidak selalu berupa berita bohong. Ia bahkan tidak selalu membutuhkan kebohongan.
Kadang-kadang propaganda cukup dilakukan dengan memilih fakta tertentu, mengulanginya terus-menerus, kemudian membiarkan fakta lain yang sama pentingnya tenggelam.
Dua contoh sederhana dapat membantu kita melihat bagaimana mekanisme itu bekerja.
*Gandum: Ketika Narasi Hidup Sehat Bertemu Kepentingan Ekonomi*
Coba perhatikan percakapan tentang diet dan pola hidup sehat di media sosial.
Gandum sering hadir sebagai salah satu pilihan sumber karbohidrat. Dalam podcast, talkshow, maupun konten kesehatan, kita sering mendengar bahwa produk gandum tertentu dapat menjadi bagian dari pola makan sehat.
Pernyataan tersebut tentu tidak otomatis salah.
Persoalannya justru terletak pada pertanyaan yang jarang ikut dibicarakan:
Dari mana bahan bakunya berasal?
Indonesia bukan negara penghasil gandum. Artinya, kebutuhan gandum dalam negeri dipenuhi melalui impor.
Data USDA menunjukkan bahwa pada tahun pemasaran 2023/2024, impor gandum Indonesia mencapai sekitar 13 juta ton, bahkan menjadi rekor pada saat itu. Untuk 2025/2026, USDA memperkirakan impor Indonesia sekitar 12,6 juta ton.
Angka ini bukan angka kecil.
Artinya, ketika konsumsi produk berbasis gandum tumbuh, ada sebuah rantai ekonomi internasional yang ikut bergerak: petani di negara penghasil, eksportir, perusahaan perdagangan, perusahaan pelayaran, importir, industri penggilingan, industri makanan, distributor, sampai akhirnya produk tersebut berada di meja makan kita.
Dan tentu saja, tidak ada yang salah dengan perdagangan internasional.
Gandum juga memiliki fungsi penting bagi industri pangan Indonesia. Produk seperti mi, roti, biskuit dan berbagai olahan tepung telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Tetapi justru karena ketergantungannya besar, pertanyaan kritis perlu diajukan.
Mengapa ketika membicarakan sumber karbohidrat dan makanan sehat, kita lebih sering mendengar tentang gandum, sementara sumber pangan lokal seperti jagung, singkong, ubi dan sagu tidak selalu memperoleh ruang pembahasan yang sama?
Ini bukan pertanyaan untuk mengatakan bahwa gandum harus dimusuhi.
Ini adalah pertanyaan tentang ketahanan pangan dan pembentukan persepsi.
Sebab sebuah informasi bisa saja benar, tetapi belum tentu lengkap.
Gandum dapat menjadi bagian dari pola makan sehat.
Tetapi jika yang dibicarakan hanya manfaat kesehatannya, sementara ketergantungan impor dan potensi pangan lokal tidak pernah dibicarakan, masyarakat hanya mendapatkan sebagian dari gambaran yang sebenarnya.
Di sinilah propaganda bisa bekerja tanpa harus berbohong.
Ia cukup membuat satu narasi jauh lebih sering terdengar daripada narasi lainnya.
Dan ketika sebuah narasi terus diulang oleh orang yang dianggap ahli, muncul di podcast, televisi, media sosial, kemudian diperkuat algoritma, lama-lama kita tidak lagi merasa sedang mendengar sebuah narasi.
Kita merasa sedang mendengar kebenaran tunggal.
*BBM: Ketika Sebuah Fakta Kehilangan Konteks*
Contoh kedua lebih dekat dengan persoalan politik.
Kita mengenal BBM bersubsidi dan BBM nonsubsidi. Keduanya memiliki mekanisme kebijakan harga yang berbeda.
Pemerintah pada 2026 memutuskan tidak menaikkan harga Pertalite dan Biosolar sampai 31 Desember 2026, dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak mentah dan kondisi ekonomi.
Namun ketika harga BBM nonsubsidi mengalami perubahan, narasi yang muncul di ruang publik sering kali disederhanakan menjadi:
“Harga BBM naik.”
Secara bahasa, kalimat itu mungkin benar.
Tetapi pertanyaan berikutnya adalah:
BBM yang mana?
Di sinilah konteks menjadi penting.
BBM bersubsidi dan nonsubsidi bukanlah perkara yang sama. Ketika masyarakat hanya menerima potongan informasi “harga BBM naik”, perbedaan tersebut dapat hilang dari percakapan.
Kemudian terbentuk rangkaian narasi:
Harga BBM naik.
Rakyat semakin terbebani.
Pemerintah tidak berpihak kepada rakyat.
Lalu muncullah tuntutan agar harga diturunkan.
Sekali lagi, menyampaikan kritik dan melakukan demonstrasi tentu merupakan bagian dari demokrasi. Masyarakat memiliki hak untuk menyampaikan pendapat.
Tetapi dalam demokrasi yang sehat, tuntutan juga harus berani masuk ke pertanyaan yang lebih dalam:
Jika harga harus diturunkan, siapa yang menanggung selisihnya?
Karena ketika harga suatu komoditas energi ditekan melalui subsidi, uang yang digunakan tetap berasal dari anggaran negara.
Artinya, pembicaraan mengenai harga tidak boleh berhenti pada pertanyaan:
“Berapa harga yang harus dibayar masyarakat?”
Tetapi juga:
“Berapa biaya yang harus ditanggung negara?”
Dan pertanyaan berikutnya bahkan lebih penting:
“Jika negara mengeluarkan lebih banyak uang untuk subsidi, belanja apa yang harus dikurangi atau dari mana sumber dananya?”
Di sinilah kita melihat bagaimana sebuah isu dapat berubah menjadi propaganda ketika fakta hanya disajikan separuh.
Harga BBM nonsubsidi berubah?
Itu fakta.
Ada masyarakat yang keberatan?
Itu juga fakta.
Ada yang menuntut harga diturunkan?
Itu fakta.
Tetapi apabila konteks mengenai perbedaan BBM subsidi dan nonsubsidi serta konsekuensi fiskalnya tidak ikut dibicarakan, masyarakat kembali hanya menerima sepotong realitas.
Propaganda Tidak Selalu Berbohong
Inilah yang menurut saya perlu kita pahami bersama.
Kita terlalu sering menganggap propaganda sebagai kebohongan.
Padahal propaganda modern bisa jauh lebih halus.
Ia dapat bekerja melalui framing.
Sebuah fakta dipilih.
Diberi judul tertentu.
Dipotong menjadi video beberapa puluh detik.
Kemudian dibagikan.
Diberi komentar.
Diperkuat oleh akun-akun lain.
Algoritma membaca bahwa kita tertarik.
Lalu informasi yang serupa kembali muncul di layar kita.
Kita akhirnya merasa telah melihat banyak bukti.
Padahal mungkin kita hanya melihat banyak pengulangan dari sudut pandang yang sama.
Inilah paradoks era digital.
Kita memiliki akses informasi yang luar biasa besar, tetapi justru dapat memahami realitas secara semakin sempit.
Bukan karena informasi tidak tersedia.
Melainkan karena informasi yang berbeda dari keyakinan kita semakin jarang kita lihat.
Lalu, Siapa yang Diuntungkan?
Ini pertanyaan yang sering terlupakan.
Ketika sebuah narasi terus berulang, jangan hanya bertanya:
“Apakah informasi ini benar?”
Tanyakan juga:
“Siapa yang mendapatkan manfaat jika masyarakat mempercayai narasi ini?”
Dalam kasus gandum, kita tidak perlu buru-buru menuduh ada pihak tertentu yang sengaja membuat masyarakat bergantung pada gandum.
Itu membutuhkan bukti.
Namun kita bisa melihat secara objektif bahwa ketergantungan impor menciptakan sebuah ekosistem perdagangan yang bernilai besar. Indonesia menjadi pasar penting bagi negara-negara produsen dan eksportir gandum. USDA bahkan mencatat Indonesia sebagai salah satu pasar penting bagi gandum Amerika Serikat.
Jadi pertanyaannya bukan:
“Siapa dalang di balik gandum?”
Pertanyaan yang lebih sehat adalah:
“Apakah kepentingan pangan nasional sudah mendapatkan perhatian yang seimbang dengan kepentingan industri dan perdagangan?”
Begitu pula dengan BBM.
Jangan buru-buru mengatakan bahwa setiap kritik terhadap harga BBM adalah propaganda.
Tidak.
Ada masyarakat yang memang merasakan dampak harga energi.
Ada pekerja yang biaya transportasinya meningkat.
Ada pelaku usaha yang biaya operasionalnya bertambah.
Kritik terhadap kebijakan pemerintah adalah sesuatu yang wajar.
Tetapi kita juga harus bertanya:
Apakah setiap tuntutan populer otomatis merupakan kebijakan yang paling baik bagi seluruh rakyat?
Belum tentu.
Karena sebuah kebijakan bisa terasa menyenangkan hari ini, tetapi memiliki konsekuensi yang baru dirasakan kemudian.
Kita Juga Bisa Menjadi Penyebarnya
Pada akhirnya, masalah propaganda digital bukan hanya terletak pada siapa yang membuatnya.
Masalahnya juga ada pada kita.
Kita sering membagikan informasi karena judulnya menarik.
Kita percaya karena disampaikan oleh orang yang terlihat meyakinkan.
Kita menganggap benar karena pembicaranya seorang pakar.
Kita menyebarkan potongan video tanpa mencari tahu apa yang dikatakan sebelum dan sesudahnya.
Lebih buruk lagi, kadang kita tidak membagikan sesuatu karena sudah memeriksa kebenarannya.
Kita membagikannya karena kita menyukai kesimpulannya.
Di titik itulah kita berhenti menjadi konsumen informasi.
Kita berubah menjadi bagian dari mesin distribusi informasi.
Dan tanpa sadar, mungkin ikut menyebarkan propaganda.
*Cinta Indonesia di Era Informasi*
Mencintai Indonesia hari ini tidak cukup hanya dengan mengibarkan Merah Putih.
Tidak cukup hanya dengan memakai atribut nasional.
Tidak cukup hanya dengan menyanyikan lagu kebangsaan.
Di era digital, mencintai Indonesia juga berarti bertanggung jawab terhadap informasi yang kita sebarkan.
Berani mengatakan:
“Saya belum tahu.”
Berani mengatakan:
“Data ini perlu diperiksa.”
Dan yang paling sulit:
“Mungkin saya salah.”
Sebab Indonesia tidak hanya membutuhkan masyarakat yang berani bersuara.
Indonesia membutuhkan masyarakat yang bertanggung jawab atas suara yang mereka sebarkan.
Pada akhirnya, propaganda paling berbahaya bukan selalu propaganda yang berisi kebohongan.
Kadang ia hanya memberikan kita separuh kebenaran, lalu membiarkan kita menyimpulkan sendiri separuh lainnya.
Karena itu, pertanyaan terpenting di era digital bukan hanya:
“Siapa yang sedang melakukan propaganda kepada kita?”
Tetapi juga:
“Sudahkah saya memeriksa informasi ini sebelum ikut menyebarkannya?”
Sebab bisa jadi, tanpa kita sadari, propaganda tidak sedang bekerja kepada kita.
Propaganda sedang bekerja melalui kita.
Dan mungkin, di tengah banjir informasi hari ini, bentuk cinta Indonesia yang paling sederhana adalah:
jangan menjadi orang yang paling cepat membagikan berita. Jadilah orang yang paling hati-hati memastikan kebenarannya.

