Kritik dan Hinaan : Dipisahkan oleh Adab

Penulis : Ricky Giantoro
Pemerhati isu sosial dan kebangsaan

Di ruang publik sekarang ini, banyak orang merasa sedang menyampaikan kritik, padahal yang keluar hanyalah hinaan. Kalimat-kalimat kasar dibungkus atas nama kebebasan berpendapat, sementara penghinaan dianggap sebagai bentuk keberanian. Akibatnya, ruang diskusi kehilangan makna dan adab perlahan ditinggalkan.

Padahal sejatinya, kritik dan hinaan memiliki sekat yang sangat tebal. Sekat itu bernama adab.

Kritik lahir dari kepedulian. Ia bertujuan memperbaiki, bukan menjatuhkan. Kritik mungkin terdengar tegas, tetapi tetap menjaga martabat orang lain. Sementara hinaan lahir dari emosi dan kesombongan, ingin melukai, mempermalukan, atau merasa paling benar sendiri.

Di sinilah adab menjadi pembeda.

Adab mengajarkan bahwa kecerdasan tidak cukup hanya diukur dari kemampuan berbicara, tetapi juga dari cara menjaga lisan. Sebab ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, dan pengetahuan tanpa akhlak mudah berubah menjadi senjata untuk merendahkan orang lain.

Adab bahkan lebih tinggi dari ilmu. Karena orang berilmu belum tentu beradab, tetapi orang yang benar-benar beradab akan tahu bagaimana menggunakan ilmunya dengan bijak.

Di ruang publik sekarang ini, kita sering terkagum pada panjangnya deretan gelar, prestasi, atau label beasiswa yang dimiliki seseorang. Namun semua itu menjadi kecil nilainya ketika lisannya dipenuhi caci maki dan sikap merasa paling suci. Sebab kehormatan manusia tidak hanya terlihat dari apa yang ia ketahui, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang lain.

Ironisnya, di ruang publik sekarang ini banyak orang begitu pandai mengkritik, tetapi gagap dalam menghadirkan solusi. Kritik disampaikan dengan penuh percaya diri, namun miskin data, minim pemahaman, dan sering kali gagal memahami persoalan secara utuh. Yang lahir bukan pencerahan, melainkan keributan.

Padahal kritik yang sehat bukan sekadar menunjuk kesalahan, tetapi juga mampu menawarkan jalan keluar. Sebab mengkritik tanpa data dan solusi hanya akan menjadi suara bising yang kehilangan makna.

Kritik tanpa data dan solusi ibarat kentut di malam hari: terasa mengganggu, meninggalkan bau tidak sedap, tetapi tidak memberi penerangan apa pun.

Sebagian orang begitu mudah menuduh pemerintah anti kritik dan otoriter. Namun mereka lupa bahwa tuduhan itu disampaikan di ruang publik yang bebas, tanpa pembungkaman, tanpa larangan, dan tanpa rasa takut untuk berbicara. Maka tuduhan bahwa negeri ini sepenuhnya anti kritik sejatinya gugur oleh realitas itu sendiri.

Di ruang publik sekarang ini, tidak sedikit oknum yang mengatasnamakan akademisi justru gemar menyebarkan ketakutan dengan menyimpulkan bahwa negeri ini tidak lagi demokratis. Padahal ironi terbesar terlihat ketika tuduhan itu disampaikan secara bebas di mimbar-mimbar terbuka, disebarkan melalui media sosial, bahkan terus diulang tanpa rasa takut. Fakta bahwa mereka tetap bebas berbicara sejatinya menjadi bukti bahwa ruang kritik itu masih ada. Karena negara yang benar-benar otoriter tidak akan memberi ruang seluas itu bagi suara yang berbeda.

Lebih jauh lagi, bangsa ini tidak akan pernah menjadi besar jika rakyatnya lebih sibuk saling menjatuhkan daripada saling menguatkan. Kejayaan suatu bangsa sejatinya dimulai dari rakyatnya yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Sebuah frasa yang tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar dengan susunan kata yang sangat tepat dan penuh makna.

“Bersatu” ditempatkan di urutan paling depan. Itu bukan tanpa alasan. Sebab mustahil sebuah bangsa mampu berdaulat tanpa adanya persatuan. Dan tanpa kedaulatan, keadilan hanya akan menjadi angan-angan, sementara kemakmuran hanyalah mimpi yang terus dijanjikan.

Persatuan adalah fondasi. Ketika masyarakat mudah dipecah oleh kebencian, hinaan, dan ego merasa paling benar, maka yang runtuh bukan hanya hubungan antarmanusia, tetapi juga masa depan bangsa itu sendiri.

Karena itu, kritik seharusnya menjadi alat untuk memperkuat persatuan, bukan memperlebar permusuhan. Kritik harus mampu membangun kesadaran, bukan memelihara kebencian. Sebab negeri ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sering kekurangan orang yang mampu menjaga adab, persatuan, dan kejernihan berpikir dalam menyampaikan perbedaan.

Bangsa besar tidak dibangun oleh mereka yang paling keras berbicara, tetapi oleh mereka yang mampu menjaga adab saat berbeda.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca