Perkembangan teknologi digital telah mengubah semua aspek lini kehidupan manusia, mulai dari bidang Sosial hingga bidang ekonomi sudah terjamah pengaruh digitalisasi. Begitu pula pada bidang Pendidikan, yang secara fundamental mengubah metode konvensional menjadi pembelajaran daring dan interaktif. Kehadiran internet, media sosial, kecerdasan buatan, membuat proses belajar tidak terbatas ruang dan waktu. Generasi muda saat ini hidup di tengah arus global yang sangat cepat sehingga membutuhkan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan karakter yang kuat. Kondisi ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi Lembaga Pendidikan islam, termasuk Muhammadiyah, untuk terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Menurut bapak Hamam Sanadi P.hd yakni Muhammadiyah sebagai Gerakan islam berkemajuan memiliki pandangan bahwa kemajuan teknologi harus tetap berjalan berdampingan dengan nilai kemanusiaan, akhlak dan Pendidikan karakter. Karena itu konsep kosmopolitanisme islam menjadi relevan untuk membangun generasi muslim yang terbuka terhadap perkembangan global tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Kosmopolitanisme islam bisa dipahami sebagai sikap keterbukaan umat islam terhadap ilmu pengetahuan, budaya, dan perkembangan dunia global tanpa meninggalkan nilai dasar ajaran islam. Islam sejak awal berkembang melalui interaksi lintas budaya, ilmu pengetahuan, dan peradaban. Karena itu, islam memiliki nilai universal seperti toleransi, keadilan, kemanusiaan, dan penghargaan terhadap keberagaman. Dalam konteks era modern saat ini, kosmopolitanisme tidak berarti kehilangan identitas, melainkan kapasitas untuk hidup berdampingan secara terbuka dan aktif membangun kemajuan bersama.
Di tengah derasnya arus media sosial dan budaya global, pelajar sering kali menghadapi tantangan berupa penyebaran hoaks, budaya konsumtif, hingga menurunnya interaksi sosial secara nyata. Oleh sebab itu, Pendidikan islam perlu menanamkan sikap kritis dan bijaksana dalam menggunakan teknologi. Kosmopolitanisme islam bukan berarti mengikuti seluruh budaya luar secara bebas, melainkan memilih nilai yang sesuai dengan ajaran islam dan membawa manfaat bagi diri sendiri dan Masyarakat. Dengan cara ini, generasi muda dapat menjadi pribadi yang terbuka, modern, tetapi tetap pada identitas keislaman yang kuat.
Dalam penjelasannya bapak Andar Nubowo P.hd, Muhammadiyah memandang islam sebagai agama yang mendorong kemajuan, dialog, serta penghargaan terhadap kemanusiaan universal. Pemikiran tersebut terlihat dalam konsep islam berkemajuan yang salah satunya menitikberatkan pentingnya ijtihad, keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, dan pemanfaatan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan cita-cita Muhammadiyah yakni ingin memiliki masyarakat yang terbaik yang mampu melahirkan peradaban yang utama dan sebagai alternatif yang dapat membawa pencerahan hidup umat manusia di tengah dinamika zaman sekarang ini.
Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi yang membawa semangat tajdid atau pembaruan. Sejak berdiri pada tahun 1912, Muhammadiyah telah membangun sekolah modern yang menggabungkan Pendidikan agama dan ilmu pengetahuan umum. Pemikiran Ahmad Dahlan ini menunjukkan bahwa islam mendorong umatnya untuk maju dalam bidang Pendidikan, sosial, dan teknologi. Konsep islam berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah menekankan pentingnya keseimbangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan nilai kemanusiaan. Semangat tersebut masih relevan sampai era digital saat ini.
Sedangkan Menurut Haedar Nashir, islam berkemajuan bukan hanya sekedar jargon dan istilah retorik saja, tetapi perspektif keagamaan yang menitikberatkan pada pencerahan, humanisasi, dan pembangunan peradaban. Semangat tersebut terlihat dari Upaya Muhammadiyah membangun sekolah, universitas, rumah sakit, hingga gerakan dakwah digital yang terus berkembang sampai sekarang. Oleh karena itu, Muhammadiyah terus mendorong Pendidikan yang adaptif atau bisa menyesuaikan terhadap teknologi, serta dapat menekankan pentingnya Pendidikan karakter agar generasi muda tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki nilai kepedulian sosial dan akhlak yang baik, namun masih tetap berpegang pada nilai moral dan kepedulian sosial generasi muda.
Transformasi Pendidikan Muhammadiyah di era digital terlihat dari semakin banyaknya sekolah dan perguruan tinggi muhammadiyah yang memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran. Penggunaan platform digital seperti, Smart TV, Learning Management System (LMS), dan media pembelajaran interaktif mulai diterapkan di beberapa sekolah Muhammadiyah untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Beberapa sekolah Muhammadiyah bahkan telah mengenalkan coding, desain digital, dan literasi media sebagai bagian dari pembelajaran modern.
Salah satu contohnya adalah program digitalisasi pada SDIT Muhammadiyah Rawalo yang meningkatkan pembelajaran berbasis teknologi tanpa meninggalkan Pendidikan karakter Islami. Selain itu, di beberapa sekolah lainnya juga mulai memanfaatkan aplikasi seperti Google Classroom, Canva, dan video pembelajaran interaktif agar materi yang disampaikan lebih mudah dipahami siswa. Muhammadiyah juga aktif meningkatkan dakwah digital melalui media sosial dan platform edukasi. Hal ini sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan pola belajar generasi muda dengan menyesuaikan era digital saat ini. Transformasi tersebut menunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi sarana dakwah dan pendidikan apabila dalam penerapannya digunakan secara bijak dan humanis.
Namun, perkembangan teknologi juga membawa tantangan baru. Berdasarkan laporan penggunaan internet di Indonesia, Sebagian besar remaja menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial setiap hari. Kondisi ini dapat memengaruhi fokus belajar, Kesehatan mental, dan pola interaksi sosial pelajar yang bila tidak diimbangi dengan literasi digital yang baik. Oleh sebab itu, Muhammadiyah tidak hanya mendorong penggunaan teknologi, tetapi juga menanamkan nilai etika digital, tanggung jawab, dan penggunaan media secara bijak.
Dalam konteks Muhammadiyah Society 5.0, Pendidikan Muhammadiyah berupaya menghadirkan teknologi yang humanis atau yang dapat membantu manusia berkembang tanpa menghilangkan nilai sosial kita sebagai manusia. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, empati dan kepedulian sosial generasi muda. Generasi muda memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan era digital. Pelajar dan mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus mampu membuat inovasi dan konten yang bermanfaat bagi Masyarakat. Media sosial, misalnya dapat dimanfaatkan untuk dakwah kreatif, mengedukasi, kampanye literasi, hingga pengembangan bisnis berbasis Pendidikan atau edupreneurship.
Selain itu, sebagai generasi muda sudah seharusnya memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh informasi palsu dan budaya digital yang negatif. Seperti yang sudah disampaikan saat pematerian Pra TM 3 yang lalu, nilai islam dapat menjadi dasar untuk membangun sikap moderat, terbuka, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Dengan dapat memanfaatkan teknologi secara positif, generasi muda terutama generasi muda Muhammadiyah dapat menjadi agen perubahan yang membawa dampak baik bagi diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.
Peran tersebut menjadi semakin penting karena masa depan Pendidikan dan dakwah islam akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital. Jika generasi muda tidak bisa mengendalikan diri dari perkembangan yang sedang berjalan maka tak menutup kemungkinan akan mudah terbawa arus, tetapi jika sebaliknya, maka dalam seiring waktu penggunaan dan pemanfaatan di era digitalisasi ini akan dapat bersaing sekaligus tetap menjaga identitas keislamannya.
Kosmopolitanisme islam dan transformasi Pendidikan Muhammadiyah menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak harus bertentangan dengan nilai keislaman. Muhammadiyah justru memandang teknologi sebagai sarana untuk memperluas dakwah, meningkatkan kualitas Pendidikan, dan membangun peradaban yang lebih maju. Tantangan era digital memang semakin kompleks, tetapi dengan penguatan literasi digital, Pendidikan karakter, dan nilai islam berkemajuan, generasi muda dapat menjadi agen perubahan yang adaptif sekaligus berakhlak. Melalui pendekatan yang humanis dan terbuka terhadap perkembangan zaman, Muhammadiyah terus membuktikan dirinya sebagai gerakan islam modern yang relevan di era Society 5.0. *Salwa Kinanti

