JAKARTA – Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar melontarkan kritik tajam terhadap kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia menyebut kepengurusan saat ini gagal dan tidak layak dilanjutkan.
Pernyataan itu disampaikan Cak Imin setelah mengaku berdiskusi dengan sejumlah kalangan Nahdliyin. Ia menyimpulkan bahwa arah kepemimpinan PBNU tidak lagi sesuai harapan sebagian warga NU. “Kesimpulannya sama, kepemimpinan hari ini tidak boleh diteruskan,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip dari sejumlah media, termasuk Kalbarsatu dan Duta.co.
Kritik tersebut secara implisit mengarah pada Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, yang memimpin organisasi hasil Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021. Dalam muktamar itu, Yahya terpilih mengalahkan pesaingnya dengan dukungan mayoritas muktamirin dan memimpin PBNU untuk masa khidmat 2021–2026.
Menanggapi kritik tersebut, Gus Yahya tidak memberikan reaksi keras. Ia memilih merespons secara singkat dengan menegaskan bahwa PBNU tetap fokus menjalankan kerja organisasi. Sikap ini dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas internal di tengah polemik yang berkembang di ruang publik.
Di sisi lain, pernyataan Cak Imin juga mendapat tanggapan dari Nusron Wahid. Ia menyoroti posisi alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dalam struktur PBNU saat ini. Menurut Nusron, sebagian alumni PMII merasa seperti “tamu” di organisasi yang secara historis memiliki kedekatan erat dengan mereka.
Secara faktual, hubungan antara NU, PKB, dan PMII memang memiliki akar historis yang panjang. PKB didirikan pada 1998 dengan dukungan kuat dari kalangan NU, sementara PMII merupakan organisasi kemahasiswaan yang lahir dari rahim NU pada 1960. Kedekatan ini membuat dinamika internal seringkali beririsan dengan kepentingan politik.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari PBNU yang secara khusus membantah atau menanggapi detail kritik Cak Imin. Namun, sejumlah pengamat menilai perbedaan pandangan ini mencerminkan dinamika wajar dalam organisasi besar, sekaligus menunjukkan adanya perdebatan mengenai arah kepemimpinan NU ke depan.

