Teheran – Pemerintah Iran mengumumkan pembukaan penuh Selat Hormuz bagi kapal komersial selama masa gencatan senjata 10 hari di Lebanon. Kebijakan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi.
Araqchi menegaskan bahwa jalur pelayaran strategis tersebut kini dapat dilalui secara aman oleh kapal-kapal dagang, dengan tetap mengikuti rute yang telah ditetapkan otoritas maritim Iran. Pembukaan ini menjadi langkah penting di tengah meredanya ketegangan kawasan setelah konflik yang melibatkan sejumlah aktor di Timur Tengah.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai jalur vital perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima distribusi minyak global melintasi perairan sempit tersebut. Penutupan sebelumnya sempat memicu kekhawatiran krisis pasokan dan lonjakan harga energi di pasar internasional.
Dengan dibukanya kembali jalur ini, aktivitas perdagangan global mulai kembali normal. Pasar merespons cepat dengan penurunan harga minyak dunia, mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap stabilitas pasokan.
Namun demikian, Iran menegaskan kebijakan ini bersifat sementara dan hanya berlaku selama masa gencatan senjata berlangsung di Lebanon. Ketidakpastian masih membayangi, mengingat dinamika konflik di kawasan belum sepenuhnya mereda.
Langkah Teheran ini juga dipandang sebagai sinyal diplomasi untuk meredakan eskalasi lebih luas. Sejumlah negara kini mendorong agar momentum gencatan senjata dapat diperpanjang dan menjadi pintu masuk menuju penyelesaian konflik secara permanen.
Di tengah situasi yang masih fluktuatif, dunia kini menanti apakah pembukaan Selat Hormuz akan berlanjut, atau kembali menjadi titik tekanan baru dalam geopolitik global.

