YOGYAKARTA, 8 April 2026 – Menanggapi eskalasi kekerasan yang menimpa pejuang Hak Asasi Manusia (HAM), Aliansi BEM Nusantara DIY bersama BEM PTNU DIY secara resmi menggelar “Aksi Solidaritas Kemanusiaan Melawan Penindasan” di depan Gedung DPRD DIY. Aksi ini merupakan respons kolektif atas tragedi penyiraman air keras terhadap aktivis HAM, Andrie Yunus, yang dinilai sebagai upaya pembungkaman paksa terhadap suara kritis rakyat.
Mahasiswa memandang bahwa kekerasan fisik yang dialami oleh aktivis bukan sekadar serangan personal, melainkan simbol penindasan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan berpendapat yang dijamin oleh konstitusi.
Koordinator Daerah BEM Nusantara DIY, Muhammad Miftahun Ni’am, dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa aksi ini adalah sinyal perlawanan terhadap segala bentuk intimidasi.
“Hari ini kita berkumpul bukan hanya untuk membela satu individu, melainkan untuk melawan pola penindasan yang semakin berani muncul ke permukaan. Teror terhadap Andrie Yunus adalah alarm bahaya bagi demokrasi kita. Kami menuntut keadilan yang transparan, bukan sekadar gimik hukum di permukaan,” tegas Ni’am.
Tuntutan Kolektif Melawan Penindasan:
Dalam aksi ini, Aliansi BEM Nusantara dan BEM PTNU DIY membawa empat poin tuntutan mendasar:
Hentikan Impunitas: Mendesak aparat penegak hukum untuk menyeret aktor intelektual di balik teror penyiraman air keras ke pengadilan tanpa pengecualian.
Jaminan Keamanan Sipil: Menuntut negara hadir memberikan perlindungan maksimal bagi setiap warga negara dan aktivis yang memperjuangkan keadilan kemanusiaan.
Reformasi Struktural Peradilan: Mendesak percepatan revisi UU No. 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer guna memastikan tidak ada pihak yang kebal hukum (equality before the law).
Solidaritas Tanpa Batas: Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu melawan segala bentuk penindasan yang mencederai hak asasi manusia.
Aksi ditutup dengan komitmen bersama bahwa mahasiswa akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Pesan utama yang dibawa sangat jelas: kekerasan tidak akan meredam perjuangan, melainkan menjadi pupuk bagi perlawanan yang lebih besar.
“Semakin Disiram, Makin Tak Padam!”

