Kesrimpet Sarung: Jatuh oleh Langkah Sendiri

Saya pernah melihat seseorang berjalan tergesa di halaman rumahnya sendiri. Sarungnya terlipat rapi, langkahnya terlihat mantap. Tapi dalam satu gerakan yang terlalu cepat, ujung sarungnya terinjak. Ia tersandung, langkahnya goyah hampir jatuh, lalu menoleh sejenak seolah mencari siapa yang harus disalahkan.
Padahal,disekitarnya tidak ada siapa-siapa.

Dari peristiwa sederhana itu, saya teringat satu istilah yang akrab di telinga orang Jawa, yaitu  “kesrimpet sarung”. Sebuah ungkapan yang terdengar ringan, tapi sesungguhnya menyimpan teguran yang dalam.

Dalam kehidupan sosial, terlebih dalam kepemimpinan, kesrimpet sarung bukan sekadar kejadian fisik. Ia adalah cermin bahwa kejatuhan sering kali bukan karena dorongan orang lain, melainkan karena langkah kita sendiri yang kehilangan kendali.

Pepatah Jawa mengatakan:
“Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.”

Harga diri terletak pada ucapan, kehormatan raga pada apa yang dikenakan.
Saya memaknai “busana” itu sebagai amanah. Sebagai jabatan. Sebagai kepercayaan yang melekat dan harus dijaga.

Namun, dalam perjalanan, tidak semua orang mampu merawat apa yang ia kenakan.
Ada yang awalnya hati-hati, lalu menjadi terlalu percaya diri.
Ada yang awalnya terukur, lalu berubah terlalu banyak gerak.

Di situlah saya melihat satu pola yang berulang:
ketika langkah tidak lagi dijaga, “sarung” itu mulai kendor.

Orang Jawa mengingatkan dengan sederhana,
“Alon-alon waton kelakon.”

Pelan bukan berarti lemah, tapi sadar arah dan pijakan.

Namun dalam praktiknya, banyak yang justru terjebak dalam ilusi gerak.
Seolah semakin banyak manuver, semakin terlihat kuat. Padahal, tanpa disadari, gerak yang berlebihan justru mengendurkan ikatan yang seharusnya dijaga.
Dan ketika itu terjadi, hukum kehidupan berjalan tanpa bisa ditawar.

“Sapa sing nandur, bakal ngundhuh.”

Yang ditanam adalah kelalaian.
Yang dipanen adalah kejatuhan.

Saya semakin memahami, kejatuhan yang paling sunyi adalah ketika seseorang tidak bisa lagi menyalahkan siapa pun. Tidak ada lawan yang menjatuhkan, tidak ada tangan yang mendorong.

Ia jatuh… karena langkahnya sendiri.

Kesrimpet sarung dewe.

Di sisi lain, saya juga belajar dari mereka yang memilih tidak membalas ketika disakiti. Mereka tetap berjalan, tetap berbuat baik, seolah tidak terganggu oleh apa pun yang pernah diarahkan kepadanya.

Dalam diam, mereka sedang menjaga “sarungnya” tetap rapi.

Orang Jawa menyebutnya “tepa selira”—tahu batas, tahu rasa. Dan juga “nrimo ing pandum”, bukan menyerah, tapi tetap teguh tanpa harus kehilangan arah.

Waktu, pada akhirnya, selalu punya cara untuk menunjukkan siapa yang menjaga diri dan siapa yang lalai.
Dan dari sana saya sampai pada satu kesadaran sederhana,
bahwa yang paling sulit dalam kepemimpinan bukanlah mengatur orang lain, melainkan menjaga diri sendiri agar tetap berpijak.

Sebab dalam banyak kejadian, yang menjatuhkan seseorang bukanlah tekanan dari luar.

Melainkan langkahnya sendiri yang terlalu jauh,
tanpa pernah memastikan bahwa “sarung” yang ia kenakan masih terikat dengan baik.

Dan ketika itu benar-benar terjadi, barulah kita mengerti bahwa jatuh karena kesalahan sendiri bukan hanya soal kehilangan pijakan, tetapi juga kehilangan kehormatan yang selama ini kita bawa.

Sebuah jatuh yang tidak gaduh, tapi diam-diam meruntuhkan segalanya.

Oleh: Ricky Giantoro
Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Banyumas

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca