KETIKA SEMUA ORANG INGIN DIDENGAR, SEBUAH KISAH DARI LUQMAN YANG BIJAK.

Ada sebuah kisah lama yang sering dinisbatkan kepada sosok bijak, Luqman al-Hakim. Kisahnya sederhana, namun menyimpan pelajaran yang tidak pernah kehilangan relevansi.

Suatu hari Luqman berjalan bersama anaknya sambil menuntun seekor keledai, mereka berdua berjalan kaki. Orang-orang yang melihat hal tersebut justru mencibir, mengatakan betapa bodohnya Luqman dan anaknya karena memiliki keledai tetapi tidak menungganginya. Mendengar hal itu, Luqman kemudian meminta anaknya naik ke atas keledai sementara ia berjalan kaki.

Namun komentar tidak berhenti, Kali ini orang-orang berkata bahwa anak itu tidak sopan karena membiarkan ayahnya berjalan kaki. Komentar tersebut membuat anaknya turun dan Luqman yang menaiki keledai. Lagi-lagi ada yang berkomentar bahwa Luqman tidak berbelas kasih karena membiarkan anaknya berjalan.

Pada akhirnya mereka kemudian mencoba jalan tengah, keduanya naik ke atas keledai. Tapi ternyata tetap saja ada yang mencibir, mengatakan bahwa mereka menyiksa hewan tersebut.

Kisah ini sederhana, tetapi menggambarkan sebuah kenyataan yang sering kita temui dalam ruang kehidupan sosial kita saat ini.

ketika semua suara ingin diikuti, maka keputusan tidak akan pernah selesai dibuat.
Dalam kehidupan publik, terutama dalam kepemimpinan, situasi semacam ini sering terjadi.

Setiap kebijakan hampir selalu mengundang komentar. Ada yang mendukung, ada yang menolak, ada pula yang sekadar berkomentar tanpa memahami persoalan secara utuh. Di ruang publik, terutama di era media sosial, suara itu bahkan menjadi semakin riuh.

Seorang pemimpin tentu perlu mendengar aspirasi. Mendengar adalah bagian dari kebijaksanaan. Namun ada perbedaan mendasar antara mendengar dan terombang-ambing oleh setiap suara. Ketika keputusan selalu diubah hanya karena tekanan opini, kepemimpinan justru kehilangan arah.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu belajar dari kisah ini. Kritik adalah hak, tetapi kebijaksanaan menuntut kita untuk tidak mudah menghakimi sesuatu hanya dari permukaan. Terlalu cepat menilai tanpa memahami konteks seringkali justru membuat ruang publik dipenuhi kegaduhan yang tidak produktif.

Disinilah harmoni tercipta, ketika adab dikedepankan sehingga menekan ego kedua belah pihak. Saling menghargai kondisi dan peran masing-masing.

Dan pada akhirnya, kisah Luqman al-Hakim mengingatkan kita pada satu hal sederhana:
tidak semua komentar harus diikuti, tetapi setiap keputusan tetap harus dipertanggungjawabkan dengan kebijaksanaan.

Pemimpin membutuhkan keteguhan sikap, sementara masyarakat membutuhkan kedewasaan dalam menilai.

Tanpa dua hal itu, kita hanya akan terus berjalan seperti Luqman dan anaknya. Sibuk menyesuaikan diri dengan suara orang banyak, tetapi tak pernah benar-benar sampai pada tujuan.

* PENULIS : RICKY GIANTORO
(PEMERHATI ISU SOSIAL &  KEBANGSAAN)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca