Innalillahi… Cendekiawan Muslim Dunia Syed Muhammad Naquib Al-Attas Wafat

Dunia intelektual Islam kembali berduka. Filsuf dan pemikir peradaban Islam, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, wafat pada Ahad, 8 Maret 2026, dalam usia 94 tahun.

Kabar wafatnya cendekiawan asal Malaysia itu segera menyebar di kalangan akademisi, ulama, hingga lembaga pendidikan Islam di berbagai negara. Al-Attas dikenal sebagai salah satu pemikir Islam paling berpengaruh di Asia Tenggara yang gagasannya banyak membentuk arah studi Islam modern.

Sepanjang hidupnya, Al-Attas menekuni kajian filsafat, teologi, sejarah, bahasa Melayu, hingga tasawuf. Ia juga dikenal sebagai pendiri dan penggerak utama International Institute of Islamic Thought and Civilisation (ISTAC) di Kuala Lumpur, sebuah lembaga riset yang menjadi pusat pengembangan pemikiran peradaban Islam modern.

Di dunia akademik, karya-karyanya menjadi rujukan di banyak perguruan tinggi Islam. Ia menulis puluhan buku dan makalah ilmiah yang membahas hubungan antara ilmu pengetahuan, agama, dan peradaban.

Jejak Akademik

Lahir pada 5 September 1931, Al-Attas menempuh pendidikan militer dan akademik sebelum akhirnya mendalami studi filsafat dan peradaban Islam. Ia pernah belajar di University of Malaya serta melanjutkan studi di McGill University di Montreal, dan kemudian meraih gelar doktor di University of London.

Pengalaman akademik lintas disiplin itu membentuk pendekatan intelektualnya yang khas: menggabungkan tradisi keilmuan Islam klasik dengan analisis modern.

Inti Pemikiran Al-Attas

Pemikiran Al-Attas sering diringkas dalam beberapa gagasan besar yang mempengaruhi dunia pendidikan Islam.

Pertama, Islamisasi ilmu pengetahuan.
Al-Attas menilai ilmu modern yang berkembang di Barat tidak sepenuhnya netral, karena lahir dari pandangan hidup sekuler. Ia mengusulkan proses “Islamisasi ilmu” agar ilmu pengetahuan kembali berlandaskan nilai tauhid.

Kedua, krisis epistemologi umat Islam.
Menurutnya, kemunduran dunia Islam bukan hanya soal politik atau ekonomi, tetapi juga krisis dalam memahami ilmu pengetahuan.

Ketiga, konsep adab dalam pendidikan.
Al-Attas menegaskan tujuan pendidikan Islam bukan sekadar menghasilkan orang pintar, tetapi manusia beradab yang memahami posisi Tuhan, manusia, dan ilmu.

“Masalah utama umat Islam adalah kehilangan adab dalam ilmu,” tulis Al-Attas dalam salah satu karyanya.

Pengaruh Global

Gagasan Al-Attas sejak 1970-an memicu diskusi luas di kalangan akademisi Muslim, terutama terkait reformasi pendidikan Islam. Pemikirannya banyak mempengaruhi gerakan intelektual Islam di Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga Eropa.

Sejumlah tokoh Muslim bahkan menyebutnya sebagai salah satu arsitek kebangkitan pemikiran Islam modern di kawasan Asia Tenggara.

Kepergian Al-Attas menandai berakhirnya satu generasi besar pemikir Islam kontemporer. Namun gagasan tentang Islamisasi ilmu, adab dalam pendidikan, dan peradaban berbasis tauhid yang ia bangun diperkirakan akan terus menjadi bahan diskusi di dunia akademik.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca