BANYUMAS – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan di Kabupaten Banyumas. Sebuah video yang memperlihatkan siswa menolak mobil pengangkut makanan masuk ke lingkungan sekolah viral di media sosial pada Sabtu (8/3/2026).
Peristiwa itu terjadi di SMP Negeri 2 Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Dalam rekaman yang beredar, sejumlah siswa tampak berdiri di depan gerbang sekolah dan meminta kendaraan pengantar makanan program MBG untuk tidak masuk.
Video tersebut pertama kali ramai setelah diunggah akun Instagram lokal Purwokerto dan langsung memicu perdebatan di kalangan warganet. Banyak yang mempertanyakan efektivitas distribusi program makan gratis yang menjadi salah satu agenda nasional pemerintah.
Datang Saat Siswa Sudah Pulang
Pelaksana tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Amrin Ma’ruf, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menjelaskan bahwa mobil pengantar makanan datang ketika sebagian besar siswa sudah pulang dari sekolah.
Menurut Amrin, keterlambatan distribusi membuat sejumlah orang tua yang menjemput anaknya mempertanyakan pembagian makanan tersebut.
> “Saat mobil datang, sebagian besar siswa sudah pulang. Yang memprotes justru orang tua yang menunggu di depan sekolah,” ujar Amrin kepada wartawan.
Meski demikian, makanan yang sudah terlanjur tiba tetap dibagikan kepada siswa yang masih berada di sekolah serta kepada beberapa siswa yang rumahnya berada di sekitar sekolah.
Distribusi Program Dipertanyakan
Insiden di Sokaraja ini menambah daftar persoalan dalam implementasi program Makan Bergizi Gratis di daerah. Program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi pelajar tersebut membutuhkan distribusi yang tepat waktu agar manfaatnya bisa dirasakan secara optimal.
Sejumlah pihak menilai koordinasi antara penyedia makanan, pihak sekolah, dan pemerintah daerah perlu diperbaiki agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Banyumas Pernah Alami Kasus Serupa
Sorotan terhadap program MBG di Banyumas bukan kali pertama terjadi. Pada 2025 lalu, program serupa sempat dihentikan sementara setelah ratusan siswa diduga mengalami gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan dari dapur layanan MBG.
Kasus tersebut membuat pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap sistem pengolahan dan distribusi makanan bagi siswa.
Kini, kejadian di Sokaraja kembali memunculkan pertanyaan publik: apakah sistem distribusi program makan gratis sudah benar-benar siap menjangkau sekolah secara tepat waktu?

