Satu Rektor Empat Kampus: Strategi Prof. Nazaruddin Malik Mengakselerasi Universitas Muhammadiyah

MALANG — Di tengah tantangan pengembangan perguruan tinggi di berbagai daerah, nama Nazaruddin Malik muncul sebagai figur yang dipercaya memimpin empat universitas Muhammadiyah sekaligus. Akademisi yang kini menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu memegang amanah strategis untuk mempercepat kemajuan sejumlah kampus Muhammadiyah di berbagai wilayah Indonesia.

Selain memimpin kampus yang berbasis di Malang tersebut untuk periode 2024–2028, Nazaruddin juga dipercaya menjadi rektor di tiga perguruan tinggi lain, yakni Universitas Muhammadiyah Manado, Universitas Muhammadiyah Kupang, dan Universitas Muhammadiyah Indonesia Bekasi. Penugasan ini menjadikannya salah satu tokoh pendidikan yang memimpin beberapa perguruan tinggi secara bersamaan di lingkungan Muhammadiyah.

Transfer Manajemen dari Kampus Mapan

Menurut Nazaruddin, penunjukan tersebut kemungkinan berkaitan dengan pengalaman pengelolaan pendidikan yang ia jalankan selama memimpin Universitas Muhammadiyah Malang. Model manajemen dan pengembangan kampus yang telah berjalan di Malang diharapkan dapat ditransfer ke kampus Muhammadiyah di daerah lain.

Ia menyebut, pengembangan perguruan tinggi Muhammadiyah di beberapa wilayah membutuhkan percepatan. Karena itu, praktik terbaik yang telah berjalan di kampus besar perlu dibagikan agar universitas yang lebih muda dapat berkembang lebih cepat.

Strategi utama yang diusung adalah berbagi sumber daya (resource sharing). Pendekatan ini mencakup kerja sama dalam pengembangan kurikulum, riset, hingga penguatan kualitas dosen dan manajemen kampus.

Tantangan Memimpin Empat Kampus

Memimpin satu universitas saja sudah menjadi tugas berat bagi seorang rektor. Namun Nazaruddin mengakui tantangan tersebut semakin besar ketika harus membina empat perguruan tinggi dengan karakter wilayah yang berbeda.

Setiap kampus memiliki kondisi sosial, ekonomi, dan infrastruktur pendidikan yang tidak sama. Kampus di wilayah Indonesia timur, misalnya, menghadapi tantangan akses, sumber daya manusia, serta ekosistem akademik yang berbeda dengan kampus di Jawa.

Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak sekadar administratif, tetapi juga penguatan jaringan akademik antar-kampus. Dengan cara ini, universitas yang lebih mapan dapat menjadi mentor bagi kampus yang masih berkembang.

Model Baru Pengembangan PT Muhammadiyah

Langkah ini sekaligus menunjukkan pola baru dalam pengembangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Organisasi tersebut memiliki ratusan kampus yang tersebar di berbagai daerah dengan tingkat kemajuan yang tidak seragam.

Melalui kepemimpinan lintas kampus, diharapkan terjadi akselerasi kualitas pendidikan tinggi Muhammadiyah. Kampus yang sudah memiliki sistem manajemen kuat dapat menjadi pusat rujukan bagi kampus lain.

Di sisi lain, strategi berbagi sumber daya juga memungkinkan efisiensi dalam pengelolaan akademik, penelitian, dan kerja sama internasional.

Pendidikan Tinggi sebagai Agenda Peradaban

Bagi Nazaruddin, perguruan tinggi Muhammadiyah tidak sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga instrumen pembangunan peradaban dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Dengan memperkuat kolaborasi antar-kampus, ia berharap universitas Muhammadiyah dapat memainkan peran yang lebih besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah Indonesia.

Jika model ini berhasil, kepemimpinan satu figur di beberapa kampus bukan hanya fenomena unik, tetapi juga bisa menjadi strategi baru dalam mempercepat transformasi pendidikan tinggi di lingkungan Muhammadiyah.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca