PURWOKERTO – Jamaah memadati Masjid Nur Hidayah (MNH) Tanjung, Purwokerto Selatan, dalam kajian spesial yang menghadirkan Amrullah Sucipto, S.Sos., dari jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyumas. Dalam tausiyahnya, ia mengajak umat Islam memahami infak bukan sekadar memberi, melainkan investasi amal menuju surga.
Kajian yang digelar di kawasan Jl. Pahlawan Gg IX itu dihadiri jamaah dari berbagai kalangan. Sejak awal acara, ruang utama masjid dipenuhi peserta yang ingin mengikuti pengajian bertema keutamaan berbagi dalam Islam.
Dalam ceramahnya, Amrullah membuka dengan mengutip ayat Al-Qur’an dari QS Ali Imran ayat 92 tentang pentingnya menginfakkan harta yang dicintai.
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai,” ujarnya mengutip ayat tersebut.

Ia kemudian menuturkan kisah sahabat Nabi, Abu Thalhah al-Ansari, yang dikenal memiliki kebun kurma paling indah bernama Bairuha. Kebun tersebut berada di dekat Masjid Nabawi dan menjadi harta yang paling ia cintai.
Namun setelah ayat itu turun, Abu Thalhah justru menyerahkan kebun tersebut kepada Muhammad untuk kepentingan umat.
“Pesan moralnya jelas, kalau memberi jangan barang sisa. Berikan sesuatu yang masih baik, yang kita sendiri masih suka memakainya,” kata Amrullah.
Menurutnya, sedekah tidak hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga menjadi sarana membersihkan jiwa bagi pemberinya.
Ia menyebut setidaknya ada tiga manfaat utama sedekah. Pertama, menghilangkan sifat hasad atau iri hati terhadap nikmat orang lain. Kedua, mengikis sifat bakhil atau kikir. Ketiga, membersihkan harta dari kemungkinan adanya hak orang lain.
Amrullah juga mengingatkan jamaah tentang perumpamaan infak dalam Al-Qur’an yang diibaratkan seperti benih yang tumbuh berlipat ganda. Namun pahala itu bisa rusak jika disertai sikap menyebut-nyebut pemberian atau menyakiti perasaan penerima.

“Sedekah itu seperti menanam. Kalau kita rusak sendiri dengan kesombongan, pahala itu bisa hilang,” ujarnya.
Selain membahas makna sedekah, ia juga menggambarkan balasan bagi orang-orang yang gemar berinfak. Di antaranya kehidupan penuh kenikmatan di surga, masa muda yang abadi, serta berbagai fasilitas yang disiapkan Allah bagi para penghuninya.
Kajian berlangsung interaktif dengan sejumlah jamaah mengajukan pertanyaan seputar praktik sedekah dalam kehidupan sehari-hari.
Di akhir ceramah, Amrullah mengajak umat Islam menjadikan infak sebagai kebiasaan dan bagian dari gaya hidup.
“Kalau umat Islam gemar bersedekah, bukan hanya pahala yang didapat, tapi juga memperkuat solidaritas sosial,” pungkasnya.
Kajian ditutup dengan doa bersama. Jamaah yang hadir tampak antusias mengikuti kegiatan hingga selesai.

