Tiga Golongan Orang Berpuasa: Di Level Mana Posisi Kader Muhammadiyah Saat Ini? Simak Pesan H. Sujiman, M.A.

PURWOKERTO – Bulan suci Ramadan dimaknai sebagai momentum transformasi diri oleh jajaran Pimpinan Ranting Muhammadiyah Tanjung. Melalui kajian intensif yang digelar di Masjid Nur Hidayah Tanjung, para kader diajak merefleksikan kembali kualitas ibadah puasanya, tak sekadar ritual tahunan.

Kajian Ramadan 1447 H itu menghadirkan H. Sujiman, M.A. sebagai pemateri. Di hadapan jamaah yang terdiri dari pengurus PRM, PRA, serta pengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), ia membedah konsep puasa dalam perspektif tasawuf berkemajuan dengan merujuk pemikiran ulama besar, Imam Al-Ghazali.

Tiga Derajat Puasa

Mengutip pandangan Al-Ghazali, Sujiman menjelaskan bahwa puasa terbagi dalam tiga tingkatan.

Pertama, puasa awam, yakni puasa yang sebatas menahan lapar, dahaga, serta kebutuhan biologis. Ini merupakan level paling dasar yang bersifat fisik.

Kedua, puasa khusus, yaitu puasa yang tidak hanya menahan diri secara fisik, tetapi juga menjaga pancaindra dan anggota tubuh dari perbuatan dosa maupun hal-hal sia-sia.

Ketiga, puasa khawwasul khawwas, tingkatan tertinggi, di mana seorang hamba mampu menjaga fisik, mengendalikan diri, sekaligus memelihara hati dari segala pikiran selain Allah SWT.

“Kader Muhammadiyah tidak boleh berhenti di derajat awam. Kita harus mengejar kualitas khawwasul khawwas. Jika hati sudah terpelihara, maka gerak dakwah kita di persyarikatan akan menjadi jauh lebih tulus dan produktif,” tegas Sujiman.

Puasa dan Produktivitas Kader

Menurutnya, kualitas puasa memiliki korelasi langsung dengan etos kerja kader dalam mengelola AUM maupun dalam menjalankan roda organisasi.

Puasa, kata dia, melatih manajemen waktu, kedisiplinan, serta pengendalian diri. Jika nilai-nilai itu terinternalisasi hingga menjaga hati, maka setiap gerak kader akan berorientasi pada kemaslahatan umat, bukan kepentingan pribadi.

Kegiatan berlangsung khidmat dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Suasana masjid tampak hangat, mencerminkan semangat kader dalam menyambut Ramadan sebagai bulan pembinaan ideologi dan spiritualitas.

Melalui kajian ini, warga Muhammadiyah Tanjung diharapkan mampu menjadikan Ramadan sebagai titik tolak lahirnya kader yang lebih militan, religius, dan produktif dalam memajukan persyarikatan.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca