Kisah Pak AR dan Si Oranye Kretek-Kretek

Motor butut Yamaha bebek engkel 70 CC keluaran tahun 1970 itu warnanya oranye. Oranye yang sudah agak pudar, tapi tetap percaya diri. Motor itulah kesayangan Pak AR Fachruddin.

Kalau dinyalakan, suaranya bukan lagi “bremmmm”, tapi “kretek… kretek… grek… grek…”. Kadang orang bingung, itu mesin hidup atau lagi batuk pilek.

Apalagi kalau yang naik berbadan besar seperti Pak AR. Motor itu terlihat seperti sedang menjalani ujian kesabaran nasional. Belum lagi kalau berboncengan dengan Bu Qom, istrinya. Bebek 70 CC itu pasti dalam hati berdoa, “Ya Allah, kuatkanlah rangka hamba.”

Tapi itulah kendaraan andalan beliau. Tak pernah terlintas di benaknya untuk mengganti dengan keluaran terbaru. Padahal beliau menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Orang sepenting itu, tapi kendaraannya sederhana sekali.

Banyak yang nyeletuk,
“Mosok, Pak AR naik motor butut begitu?”

Beliau santai saja. Mungkin dalam hati beliau berpikir, yang penting dakwahnya yang ngebut, bukan motornya.

Motor oranye itu menjadi saksi mobilitas keluarga. Mengisi pengajian ke kampung-kampung, termasuk pinggiran Kali Code, motor itu seperti sirene berjalan: kalau sudah terdengar kretek-kretek di kejauhan, warga tahu, “Oh, Pak AR datang.”

Bahkan lereng Gunung Merapi pernah ditaklukkan. Entah siapa yang lebih nekat, Pak AR atau motornya. Ke pelosok desa? Gas saja. Yang penting sampai, meski kadang sampai dengan napas mesin tersengal-sengal.

Anaknya yang kuliah di Fakultas Kedokteran UGM juga pakai motor itu. Ponakan-ponakan yang ngenger di rumah? Ya naik itu juga. Mengantar Bu Qom belanja? Tetap setia si oranye. Motor itu seperti kendaraan dinas keluarga besar.

Masalahnya, saat di-starter, mesin tak langsung menyala. Biasanya terdengar dulu:
“Grek… grek… grek…”

Seperti sedang mikir panjang: “Hari ini mau kerja lagi, ya?”

Kadang harus di-starter berkali-kali. Kadang didorong sedikit. Kadang dibujuk dulu. Tapi Pak AR tak pernah marah. Beliau sabar, mungkin karena sudah biasa menghadapi manusia, jadi menghadapi motor pun tetap teduh.

Suatu hari motor itu mogok di Pajangan, Bantul. Berhenti total. Diam seribu bahasa. Tak mau kompromi.

Dengan sabar, Pak AR menuntunnya mencari bengkel. Seorang yang mengenalnya terkejut.

“Lho, kok dituntun, Pak Kiai?”

Beliau tersenyum santai sambil menjawab,
“Iya, kalau nggak dituntun, nanti takut ngamuk.”

Orang-orang pun tertawa. Motor boleh butut. Suara boleh kretek-kretek. Tapi hati pemiliknya tetap halus dan penuh humor.

Dan mungkin, di situlah letak kemewahannya.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari CARAKAMU

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca