Purwokerto – Persibas Banyumas tak lagi punya ruang untuk menunda. Kekalahan 0–1 pada leg pertama membuat Laskar Bawor datang ke leg kedua babak 8 besar Liga 4 Jawa Tengah 2025/2026 dengan satu misi mutlak: menang, apa pun risikonya.
Laga kontra Persak Kebumen bukan sekadar pertandingan balasan. Ini adalah partai hidup-mati yang akan menentukan apakah Persibas masih berhak melanjutkan perjalanan atau harus mengakhiri musim lebih cepat dari harapan publik Banyumas.
Pada pertemuan pertama di Stadion Satria Purwokerto, Persibas sebenarnya tidak sepenuhnya inferior. Sejumlah peluang tercipta, tekanan dibangun, namun satu gol Persak Kebumen cukup untuk membalikkan situasi. Sejak saat itu, agregat menjadi momok sekaligus cambuk.
Asisten pelatih Persibas, Abda Ali, menyebut timnya tak punya pilihan lain selain tampil habis-habisan sejak menit awal. Menurutnya, leg kedua harus dijalani dengan intensitas tinggi dan mental menyerang, tanpa terjebak rasa aman atau kalkulasi berlebihan.“Ini laga penentuan. Kami harus berani mengambil risiko dan memaksimalkan setiap peluang yang ada,” kata Abda dalam keterangannya.

Evaluasi utama Persibas tertuju pada persoalan klasik: penyelesaian akhir. Pada leg pertama, peluang tercipta namun tak berujung gol. Masalah ini kemudian menjadi fokus latihan jelang laga penentuan. Tim pelatih menyiapkan variasi serangan, termasuk memaksimalkan bola mati dan tembakan jarak jauh.
Persibas juga melakukan penyesuaian skema permainan. Tekanan tinggi diproyeksikan menjadi senjata utama, dengan harapan gol cepat bisa mengubah arah pertandingan sekaligus mengguncang kepercayaan diri tuan rumah.Di sisi lain, Persak Kebumen datang dengan posisi lebih nyaman. Unggul agregat membuat mereka tak perlu terburu-buru. Namun pelatih Persak, Barnowo, menegaskan timnya tidak akan bermain bertahan total.“Kami tetap bermain seimbang. Tidak bertahan saja, tapi juga tidak gegabah,” ujarnya.
Persak diperkirakan hanya melakukan sedikit rotasi pemain, dengan pendekatan permainan yang relatif sama seperti leg pertama. Strategi ini memberi sinyal bahwa Persak tetap ingin mengontrol laga, bukan sekadar mengamankan keunggulan.
Pertandingan leg kedua yang dijadwalkan berlangsung Rabu, 4 Februari 2026, akan menjadi ujian karakter bagi Persibas. Bukan hanya soal taktik, tapi juga ketahanan mental dalam menghadapi tekanan agregat dan ekspektasi publik.Bagi Persibas, kemenangan bukan sekadar soal lolos ke semifinal. Ini juga soal menjaga martabat tim, membayar kepercayaan suporter, dan membuktikan bahwa kekalahan di kandang sendiri bukan akhir dari segalanya.
Sebaliknya, kegagalan membalikkan keadaan akan menutup musim dengan rasa getir sebuah pengingat bahwa di fase gugur, satu kesalahan kecil bisa berujung pada konsekuensi besar.
Kini, segalanya bergantung pada 90 menit di lapangan. Persibas sudah sampai di ujung tanduk. Mundur berarti jatuh, maju berarti bertarung sampai napas terakhir.

